Merekam Jejak Rangmuda/i Surau Merantau Sekolah Alam Tangerang

Menulis Secara Sistematis Butuh Proses Panjang

Surau Merantau - Menulis Secara Sistematis Butuh Proses Panjang

Diawali dengan doa dhuha dan tetap sunnah puasa berharap sebagai riyadhoh ruhiyah mereka mencoba menarasikan hidup mereka dari waktu ke waktu.

Selama tujuh hari terakhir ini kami akan mencoba beberapa aktivitas spesifik rangmuda/I di rantau Kota Payakumbuh.

Setelah seharian kemarin (25/02/2018) jelajah kota-kota penting yang menjadi mewujudnya ranah Minangkabau, pagi sampai siang ini mereka ditantang untuk menarasikan.

Narasi yang dibuat akan menjadi portofolio mereka dalam mengikuti program. Kemampuan menarasikan fenomena/fakta saat ini sangat penting. Dalam kurikulum abad ini juga menjadi kompetensi inti hampir di negara2 maju. Bahkan, kemampuam menarasikan adalah budaya para ulama yang hingga kini masih bisa dilacak.

Coba bayangkan kalau para ulama madzhab mampu membuat narasi pemikirannya, sangat mungkin yang kita kenal tidak hanya bilangan jari empat atau lima madzhab, bahkan ulama madzhab sebenarnya sebanyak 18 tokoh. Bahkan mungkin bisa lebih.

Surau MErantau - Menulis Secara Sistematis Butuh Proses Panjang

Menulis secara sistematis butuh proses panjang, kali ini mereka hanya menjawab U4 pertanyaan sederhana; u learning; u experiencing, u action & u action!. Nah, selidik punya selidik cara menulis dan posisi menulis mereka memnag tidak standard, mungkin karena kebanyakan di alam yah, jurus dan gaya menulispun seperti itu. Hehehe. "Tak ai peluh diurut, tak air talang dipancung." (Kejaiban Pepatah Minang). Insiatif dan kreatif memang kadang harus dipaksa.

Di Rumah Gadang Dt. Gindo Sinaro nan Kuniang
Senin, 26/02/2018

#narasi
#suraumerantau
0 Komentar untuk "Menulis Secara Sistematis Butuh Proses Panjang"

Back To Top