Merekam Jejak Rangmuda/i Surau Merantau Sekolah Alam Tangerang

Pendidikan Surau Merantau : Bukan Sekedar Belajar di Musholla

Pendidikan Surau Merantau Bukan Sekedar Belajar


Pendidikan Surau Merantau : Bukan Sekedar Belajar di Musholla


Pertanyaan :
“Apa istimewanya pendidikan surau di Sumatera barat dengan aktivitas di masjid – masjid di tempat lain ? Bukankah belajar silat, memanah, mengaji, bimbel, dll .... sudah banyak di lakukan di banyak masjid ?

Jawaban Kami :
Saat ini pendidikan Surau sangat terdegradasi dari konsep awalnya. Bahkan tidak jarang orang langsung mengasosiasikan “pendidikan surau” dengan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Yang lebih memprihatinkan lagi, saat kami bertanya kepada orang – orang Sumatera Barat,

“Di manakah Surau yang masih berfungsi sebagai tempat pendidikan seperti zaman doeloe ?”
Jawaban mereka : “Tidak ada lagi..... Hanya tersisa kegiatan shalat dan mengaji saja”.
Pendidikan Surau tempo doeloe sejatinya adalah sebuah SISTEM PENDIDIKAN YANG TERINTEGRASI DENGAN BUDAYA MINANG.


Saya Mencoba Mencerna Sistem Tersebut Dan Merefleksikannya Dengan Situasi JAMAN NOW Berikut ini :

1. Jangan besarkan anak dalam zona nyaman.

Sejak usia 7 tahun, anak lelaki Minang tidak boleh lagi tinggal di Rumah Gadang. Ada sangsi sosial yang diterima anak bila masih tinggal bersama orang tuanya berupa ejekan dan sindiran dari teman - temannya. Padahal fungsi rumah bagi anak adalah tempat yang aman dan nyaman. Di sanalah dia akan terlindungi secara fisik (dari kepanasan dan kedinginan) dan mental (dilindungi oleh keluarganya dari intimidasi orang lain).

Dalam konteks zaman NOW, kita mengartikan aspek ini sebagai “mengeluarkan anak dari zona nyaman”. Setiap orang yang berada dalam zona nyaman, sulit untuk terus mengembangkan dirinya. Dengan sistem ini, sesungguhnya sistem pendidikan surau sedang menyiapkan anak untuk mengembangkan kemampuan terbaiknya kelak di kemudian hari.

2. Belajarlah hal – hal yang dibutuhkan untuk hidupmu.

Sistem pendidikan non formal memungkinkan para “Surau Mudo” mempelajari banyak hal yang dibutuhkan untuk hidupnya kelak. Di surau lah mereka belajar agama Islam, Adat sopan santun, pertanian, perikanan, peternakan,  Silat, Sastra, Sejarah, dan lain – lain.

3. Ada banyak sumber belajar di sekitar kita.

Di setiap surau selalu ada narasumber yang bersedia berbagi ilmu dengan “Surau Mudo”. Bila ia merasa bahwa sudah cukup ilmu yang diberikannya, ia akan merekomendasikan untuk selanjutnya pindah ke surau lain untuk mempelajari hal yang lain.

Dalam situasi zaman NOW, sesungguhnya narasumber banyak tersedia di sekitar kita. Sayangnya, kesibukan narasumber membuat tidak ada kesempatan berbagi ilmu dengan generasi muda. Secara teknis hal ini bisa disiasati, misalnya dengan membuat jadwal sharing yang disesuaikan dengan kesibukan para narasumber.

4. Persiapan merantau.

Sistem pendidikan surau tidak bisa terpisahkan dengan kegiatan merantau. Bahkan sejatinya  pendidikan surau adalah menyiapkan para “Surau Mudo” untuk kelak pergi merantau. Itu pula sebabnya kami menyebut sistem pendidikan ini sebagai “SURAU MERANTAU”.

Pengalaman merantau, yaitu pergi jauh dari kampung halaman untuk memulai sebuah kehidupan baru, adalah sebuah perjuangan merintis kehidupan dari titik nol (secara ekonomi). Dibutuhkan kemampuan survival, daya juang yang tinggi, keuletan, dan semangat pantang menyerah untuk bisa sukses di tanah rantau.

Ada seorang Datuk yang bercerita kepada saya, bahwa ia merantau hanya berbekal gunting saja. Maksudnya, Ia mengembangkan ketrampilan menjahit dan menjadikannya sebagai profesi di rantau.

5. Di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Di tanah rantau, setiap orang harus pandai membawa diri ke lingkungan barunya. Di sanalah semua ilmu tentang adat, budaya, sopan santun, akhlaq yang pernah dipelajari di surau harus diterapkan. Salah satunya adalah prinsip menghormati adat setempat.

6. Pewarisan motivasi merantau.

Ada saatnya meraka yang pergi merantau akan kembali ke kampung halaman (misalnya saat hari Raya).  Saat itulah mereka akan bercerita pengalamannya merantau kepada para “Surau Mudo” yang mendengarkan dengan antusias dan membayangkan hebatnya tanah rantau. Di sinilah terjadi pewarisan semangat merantau kepada generasi selanjutnya.

7. Networking dan mentor bisnis

Saat pergi merantau, “Surau Mudo” akan mencari induk semang yang akan membimbing dia belajar hidup di tanah rantau. Besar kemungkinannya bahwa yang akan menjadi induk semang itu adalah orang yang pernah sharing pengalaman merantau kepadanya di surau. Dalam situasi zaman NOW, kita menyebut  hal ini sebagai “Networking”. Sementara “Induk semang” yang membimbingnya kita sebut sebagai “Mentor/coach”.

Demikianlah sekelumit cerita dibalik sistem pendidikan “Surau Merantau”. Semoga bermanfaat.


Tangerang, 9 Desember 2017
Andri Fajria & Tik Santikasari Dewi

SM Surau Merantau
Sekolah Alam Tangerang

0 Komentar untuk "Pendidikan Surau Merantau : Bukan Sekedar Belajar di Musholla"

Back To Top