Anak-anak Yang Tangguh Lahir Dari Keikhlasan Orang Tua Yang Rela Anaknya Diuji.
Nabi Ya'kub memberi teladan bagaimana menghadapi ujian kehilangan anak "sementara" yaitu Nabi Yusuf, disebabkan oleh sifat iri saudara saudaranya.
Keluarga Imran diuji ketika Maryam hamil dan jadi pembicaraan orang orang hingga akhirnya Maryam keluar dari kampungnya. Padahal Maryam adalah seorang muslimah yang menjaga kesuciannya.
Ibu Nabi Musa diuji untuk menghanyutkan Nabi Musa di sungai Nil atas perintah Allah.
Kisah kisah dalam Al Qur'an inilah yang sejatinya menjadi teladan bagi kita bagaimana memberikan kesempatan kepada anak anak kita untuk diuji.
Inilah yang sedang kami lakukan di SURAU MERANTAU, memberikan kesempatan anak untuk diuji. Kadang ujian kesenangan, kadang ujian kesulitan. Melalui ujian hidup anak belajar dari pengalaman.
Ketika anak ditolak berkali kali saat jualan, ia belajar kecewa. Ketika ia naik angkot lalu ketiduran dan akhirnya terlewat saat ia harus turun dan uang tidak ada lagi ditangan, ia belajar menyelesaikan masalah. Ketika ia diamanahi akan uang, ia belajar mengelola uang. Bahkan ketika ia gagal mengelola uang, ia belajar tentang rugi dan menanggung resiko.
Penting bagi orang tua memberikan pijakan keamanan. Tapi bukan berarti terus menghindarkan anak untuk diuji. Ujian setiap anak berbeda setiap usianya. Anak 7 tahun sudah mulai bisa belajar menggunakan pisau untuk memotong. Ini bukan tanpa resiko. Tugas kita, guru dan orang tua mendampingi hingga anak bisa menggunakan pisau dengan aman. Melepas anak naik angkot tanpa hp, bukan tanpa resiko, tapi dengan pijakan yang kuat anak akan mampu naik kendaraan umum dengan aman.
Kematangan dan kedewasaan tak pernah lepas dari ujian. Kelapangan dada Nabi Ya'kub memaafkan putera puteranya serta senantiasa memohonkan ampun atas kesalahan putra putranya adalah contoh keikhlasan orang tua menghadapi ujian anak.
Anak milik Allah, kepasrahan pada Allah harus tertanam hingga ikhlas atas ujian yang Allah berikan. Kita tak selalu akan terus bersama anak anak kita. Tapi Allah yang Maha Pelindung akan selalu bersama anak anak kita.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(Al-Ankabut ayat 2-3)
Wallahu'alam
Asih Setiawuri
Surau Merantau

0 Komentar untuk "NAK... KAMI RELA ENGKAU DIUJI"