Merekam Jejak Rangmuda/i Surau Merantau Sekolah Alam Tangerang

Menghadirkan Motivasi IKHLAS MENUNTUT ILMU Dalam Diri

Jejak surau merantau motivasi-ikhlas-menuntut-ilmu


Tubuh mungil diantara delapan adik hebatku membuat dia menarik perhatianku. Dia yang dari awal tidak mau berangkat, tidak berminat belajar, dan merupakan anak yang biasa 'nyaman' di keluarga besarnya. Aku mencoba memposisikan diriku menjadi salah seorang yang memberi 'nyaman' itu. Ini cara yang menjadi pilihanku.

Saat pelajaran bahasa inggris di rumah belajar berlangsung saya pun mengambil posisi duduk di dekatnya dan satu temannya yang lain. Saat dia mulai terlihat malas, aku menyemangati dengan berbagai caraku yang tak pernah kurencanakan. Kadang hanya kuajak berseloroh tak sampai satu menit, kadang juga hanya kutepuk pundaknya, atau cara lainnya. Ia pun kembali menyemangatkan diri walau beberapa kali terlihat terpaksa. Saat dia mulai terlihat bingung dengan penjelasan atau tugas dari tutor,  akupun mencoba bertanya bagian mana yang membuatnya binging.

Seperti pada saat ditugaskan oleh tutor untuk mencari arti beberapa vocabulary , ia terlihat sangat bingung. Aku yang memperhatikan dari sudut ruangan mencoba mendekat, kulihat lembaran dihadapannya belum satu pun yang ia arti-kan. Aku paham tentang kebingungannya, namun aku menunggu ia berterus terang. Ketika kusampaikan bahwa ia harus mencari arti kata di kamus, dengan nada sedikit memerintah, seketika ia menjawab bahwa ia tidak tahu bagaimana cara mencarinya di kamus.

Aku sangat banyak belajar dari adik-adik hebatku. Termasuk saat itu, aku tahu bahwa tiap manusia diciptakan dengan kemampuan dan keistimewaan yang berbeda, namun aku sering lupa hal itu. Cara mencari arti kata di kamus menurutku bukan hal sulit, begitupun bagi adikku yang seusianya. Aku pun turut membantunya dengan memberi petunjuk sambil mencari di kamus. Hanya butuh satu halaman men- translate bersama, halam berikutnya hingga tulisan ini ada, ia sudah mandiri ketika berurusan dengan kamus.

Apresiasi. Terkadang ada anak yang ingin sesekali diapresiasi prestasinya sehingga ia menjadi percaya diri. Oke. Kumulai dengan memberikan tepuk tangan saat ia berani maju ke depan kelas untuk speaking ataupun berani menjawab pertanyaan dari tutor meskipun jawabannya salah. Kuperhatikan ada peningkatan yang baik, seiring peningkatan itu, aku pun meningkatkan penilaianku. Saat ia berani maju atau menjawab pertanyaan, namun jawaban kurang tepat atau speaking yang kurang baik, aku tak lagi memberikannya tepuk tangan. Namun aku tetap memberikan senyum penyemangat untuknya. Tak jarang ia menyiratkan rasa kesal diwajahnya.

Pada semua adik hebatku, aku hanya bisa mengatakan bahwa mereka perlu lebih berusaha lagi ketika mereka merengut dihadapanku karena kesal atas prestasi yang menurun.

Luar biasa. Kulihat ia begitu bersemangat. Tidak seperti temannya yang lain, ia dan satu adik hebatku lainnya butuh kerja keras. Pertama, mereka berdua butuh kerja keras menghadirkan motivasi 'ikhlas menuntut ilmu' dalam diri mereka. Kedua, mereka harus sangat bekerja keras belajar bahasa inggris dari yang paling dasar.

Hingga tiba hari itu, 16 Agustus 2016. Di akhir sesi hari itu, sang tutor mengumumkan peringkat the best student harian. Sebelumnya adik hebatku ini adalah langganan di peringkat kedelapan dari delapan orang. Hari itu berbeda, ia mendengar namanya disebutkan dengan semangat oleh tutor, yang juga bahagia atas pencapaiannya, diperingkat keempat. Tangan yang menengadah sepersekian detik mendarat diwajah kecilnya sambil kudengar ia mengucap syukur dengan volume suara lumayan keras.

Ah…ini mungkin hal biasa untuk beberapa orang, tapi tidak untukku. Entah apa yang kurasakan saat itu. Aku yang memang perasa, merinding dan terharu. Spontan aku pun bersyukur dan berdoa di sudut ruangan. Sejak itupun, tak ada lagi tepuk tangan yang kuhadiahi untuknya, hanya senyum yang itupun mulai ku kurangi. Aku hanya tak ingin membuat adik-adik hebatku kelak menjadi manusia yang 'gila' pujian, yang bersemangat ketika diapresiasi, kemudian terpuruk ketika tak ada apresiasi itu. Alhamdulillah. Tanpa apresiasi berlebihan, ia tetap 'normal' hingga saat ini. Proud of you. Sungguh.

Terimakasih adik hebatku untuk segala juangmu. Terimakasih untuk semangatmu melangkah, bahkan ketika kau sakit dan kami (mentor) tawarkan beristirahat. Kau jadikan aku pribadi yang berjuang sepertimu di SURAU MERANTAU. Terimakasih adik hebatku.

Ruang juang
Pare, 20 Agustus 2016

By: Nurmalia Nasution
[06:52, 8/22/2016]                    

Saya ibu dr 8 anak, kakak dr 8 adik, mentor dr 8 rangmuda/i bund, bukan novelist 😁                      
Note: tulisan sengaja dari sisi 'aku' agar tidak terlalu berimajinasi menjadi oranglain.                      
0 Komentar untuk "Menghadirkan Motivasi IKHLAS MENUNTUT ILMU Dalam Diri"

Back To Top