Antara Aku Dan Adik Hebatku Yang Cantik, Tiang Penyempurna Surau Merantau
[07:17, 8/23/2016] Nurmalia Nasution: Ada yang beda dari delapan tiang SURAU MERANTAU kami. Satu tiang yang menjadi penyempurna tiang lainnya. Adik hebatku yang paling cantik. Interaksiku dengan adik satu ini sedikit lebih banyak daripada tujuh temannya, mengingat kami tinggal berdua dalam satu kamar. Perkenalan di masa ta'aruf melahirkan kalimat bahwa ia ingin sekali punya kakak, dengan sangat percaya diri aku mengatakan bahwa sejak saat itu akulah yang menjadi kakaknya. Entah seperti apa kakak yang ia harapkan sebenarnya. Walaupun aku tidak masuk kriteria, aku akan tetap menjadi kakak untuknya.Tidak semua wanita 'comel', tapi aku bukan salah satu diantaranya. Seringkali ia meminta bantuanku membangunkannya sholat subuh. Tidak se-kali-pun kuiyakan, walau nyatanya beberapa kali tetap harus kubangunkan. Aku selalu mengingatkan ia untuk membiasakan bangun sendiri ketika ia kerap minta dibangunkan. Beberapa hari terjadi, tahajudku usai, tilawah serta subuhku usai, ia belum juga terjaga, lalu kubangunkan. Kusampaikan rasa heranku padanya, mengapa tidurnya tidak terjaga bahkan saat aku membuka pintu kamar kami, membuka jendela, suara air di kamar mandi, suara tilawah, atau saat aku mengambil barang apapun di kamar. Ia pun menjelaskan bahwa ia seringkali bermimpi dan mimpinya menurutnya seru. Aku tak tahu pasti apakah mimpi itu yang menjadi penyebab utamanya. Namun saat itu kuanggap IYA. Kuingatkan agar sebelum tidur berdoa, perbanyak zikir, jangan berimajinasi atau mengkhayal (adik hebatku ini punya hobi berimajinasi), dan jika 'sadar' sedang mimpi, paksakan alam bawah sadar menjadi sadar. Paksakan diri bangun (adik cantik ini suka melanjutkan mimpinya setelah terjaga beberapa detik).
Hari demi hari berlalu, masih saja sama. Akupun memaksa otakku memikirkan cara lain. Kuingat kebiasaanku saat awal menjadi mahasiswa dulu, membuat daily activities. Setelah dijelaskan, kutugaskan ia membuat daily activities. Tugas selesai dan kemudian dipajang di atas lemari pakaiannya. _Daily activities_ini cukup memberi efek positif, mungkin karena sebelum tidur ia merasa harus beraktivitas sesuai dengan apa yang sudah ia tuliskan. Namun hal ini membuat ia menjadi kaku awalnya, hampir setiap saat ia melihat kertas yang terpajang dan beraktivitas hanya sesuai dengan apa yang ada di kertas itu.
Aku mulai khawatir dengan cara ini, namun aku mencoba berdamai dengan kekhawatiranku kemudian memberi 'waktu pengamatan' selama tiga hari lagi. Alhamdulillah. Atas usahanya dan izin Alloh. Berhasil. Ia sudah terbiasa bangun bahkan sebelum subuh tiba, bahkan saat subuh, ia sudah harum dan cantik (mandi), ia juga menyempatkan membersihkan kamar. Semua dilakukan tanpa berhubungan dengan kertas yang terpajang itu lagi. Jika tidak sempat menyapu kamar karena kursus masuk pukul 5.30, maka istirahat pertama pukul 6.30, selalu ia sempatkan mengerjakannya. Ini artinya, ia tak lagi melakukan aktivitas layaknya robot, sesuai waktu yang ditentukan.
Aku??? Apa yang kulakukan? Tidak ada yang kulakukan saat ia ada di kamar dan dalam keadaan tidak tidur. Aktivitas 'rumahtangga' kulakukan saat ia sedang di rumah belajar atau sedang terlelap. Ini pun merupakan cara yang kupilih tanpa ilmu apapun, hanya belajar dari adik-adikku di rumah, yang merasa 'merdeka' saat aku mengerjakan pekerjaan di rumah. Aku tak ingin adik hebatku yang cantik ini berpikir demikian.
Antara aku dan adik hebatku yang cantik.
Sungguh banyak hal yang membuatku belajar darinya. Seperti saat itu, ia hendak mencuci pakaian kotornya.yang tak banyak. Sabun cuci cair sengaja kutuang dalam bekas botol minuman ukuran... satu jam berlalu ia belum juga keluar dari kamar mandi. Aku pun tertidur. Saat terbangun, kulihat ia belum keluar juga. Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi. Akhirnya selesai juga,pikirku. Aku yang hampir dua jam menunggu, bukan hendak ke kamar mandi. Aku hanya benar-benar menunggunya, karena aku tahu betul ini kali pertama baginya mencuci pakaian tanpa mesin cuci. Alhasil. Ternyata ia keluar kamar mandi untuk mengeluhkan pakaian yang sudah ia bilas berulang kali tetap mengandung sabun yang banyak sehingga masih berbusa. Aku pun bergerak menuju kamar mandi, kubantu ia membilas pakaiannya. Ditengah 'urusan' ini, tak sengaja mataku tertuju ke botol sabun, ternyata ini yang menjadi sumbernya.
Banyaknya sabun yang digunakan merendam pakaian sebenarnya sudah pas. Waktu perendaman yang terlalu lama kemudian membuat pakaian ini sedikit berbau tidak sedap. Menurut penuturan adikku ini, agar pakaian harum kembali, ia menambahkan sabun lagi hingga menghabiskan setengah dari isi botol sabun tadi. Sontak aku geleng-geleng. Sambil menerangkan 'kebenaran tragedi' ini, kami pun tertawa bersama.
Atau seperti saat lainnya, adik hebatku mendapat giliran piket memasak nasi. Ia mencuci wadah memasak nasi dengan s*nlig*t lalu mencuci beras yang sudah dimasukkan kedalamnya. Saat hendak menambahkan air 'penanak' ia terlebih dahulu menunjukkan beras yang sudah dicuci kepadaku. Aku mencium aroma s*nlig*t. Ternyata ia tidak membilas dengan bersih sebelum mencuci beras. Riuh suara teman-temannya yang takut 'keracunan' pun membuatnya kembali menuju kran air. Sepuluh menit berlalu ia belum juga kembali. Aku menugaskan satu temannya untuk men-cek. Ternyata beras tersebut dicuci puluhan kali, menurutnya agar bebas s*nlig*t, sehingga beras pun sudah sangat putih. Seperti beberapa 'tragedi' sebelumnya, setelah menjelaskan, kami pun tertawa bersama.
Tentu tidak ada yang berani makan nasi yang tersaji hari ini. Aku pun memulai makan pertama. Bismillaahirrohmaanorrhiim. Selang beberapa menit aku menghabiskan makananku, tujuh adik hebatku pun makan lahap seperti biasanya, sedang yang satu lagi sakit. Tentu saja setelah memastikan aku tidak 'keracunan'.
Ah…banyak cerita bersama adik hebatku yang cantik ini. Terimakasih cantik untuk kebersamaan kita. Terimakasih sudah menjadi teman berbagi. Terimakasih untuk perjuanganmu perlahan memahami sisi kewanitaan. Mengapa kepadamu aku sering lebih 'tegas'? Karena kita WANITA. Beberapa waktu waktu ke depan kau pun akan paham. Satu tiang spesial di SURAU MERANTAU, teruslah spesial tanpa 'men-spesial-kan' diri.
Ruang juang
Pare, 21 Agustus 2016
By: Nurmalia Nasution
******
Andri You
"Ketika goal dalam genggaman, belajar dimanapun bisa dilakukan."
Untuk Ayah dan Bunda SM yang kangen merindu Rangmuda/i Surau Merantau, berikut "special moment" yang didapat dalam membersamai mereka.Istimewa dihadirkan lebih dulu adalah Rangmudi Syifa Syahidah tanpanya perjalanan SM akan menjadi Satuan Ksatria saja. Tidak ada Srikandi yang siap mewarnai perjalanan SM berikutnya.
#Syifa Syahidah at Surau Ainul Hamid Tulungrejo
08-09-2016
Tag :
Kemandirian,
Merantau

0 Komentar untuk "Antara Aku Dan Adik Hebatku Yang Cantik, Tiang Penyempurna Surau Merantau"