Seperti biasa, aku dengan segala perasaanku. Adik hebatku ada yang Alloh uji keteguhan hatinya. Dalam kesehariannya, dia sangat ceria, 'ramai' dan ramah. Ini hari ketiga dia tak seceria biasanya. Sakit asma yang ia derita begitu menganggu, betapa kadang ia kesal dengan sakit yang tak diinginkan itu.
Gunung Kelud yang menyisakan debunya di Pare semakin memicu 'asma' hadir. Prestasi the best student mulai menurun menjadi peringkat ketiga, hingga kemudian peringkat terakhir. Batuk yang tak henti dan nafas yang begitu sesak membuatnya gagal fokus saat belajar, bahkan lebih sering ia terpaksa meninggalkan kelas untuk istirahat.
Aku dengan segala perasaanku. Setiap ia mulai batuk dan sesak, aku pun mulai mengolah otak untuk menahan air mata. Aku tak merasakan layaknya dia, namun ada yang mengena dihatiku, betapa berjuangnya dia melalui rasa sakitnya. Terkadang ia memaksakan diri masuk kelas walau akhirnya tetap terpaksa keluar untuk istirahat [lagi]. Betapa rinai wajahnya yang ceria tak sedikitpun berubah saat teman-temannya khawatir akan tertular.
Aku yang baru melihat langsung 'situasi asma' ini pun mulai mencari tahu. Kutanyakan hal ini kepada 'sahabat-sahabat pendaki' dan aku mendapat informasi, asma tidak menular. Menurut mereka bisa saja asma yang hadir beberapa hari ini akibat batuk flu, bukan batuk asma. Benar saja. Seorang temannya memberitahu bahwa ia diam-diam jajan es. Rasa sayangku membuatku sedikit bernada tinggi mengingatkannya, walaupun ia masih dalam keadaan sakit. Minta maaf yang aku rasa tulus pun meluluhkan hatiku. Kusampaikan kepada teman-temannya bahwa asma tidak menular, dan mereka bisa menerima.
Kadang terbersit keinginan menelepon orangtuanya dan mengabari mereka. Selalu kuurungkan niat itu. Aku disini yang mengenalnya belum genap sebulan saja, merasa sangat khawatir. Tak ingin aku menambah kekhawatiran bagi kedua orangtuanya secara langsung, meskipun aku yakin ikatan batin diantara mereka telah menyampaikan kabar kesehatannya.
Adik hebatku yang luar biasa. Begitu banyak tingkahnya yang kuanggap sebagai ujian untukku. Namun tak sedikit juga 'kedewasaan' pemikiran darinya yang sering membuatku tercengang. Seperti waktu itu, entah apa yang kami bicarakan, kemudian ia mengingatkanku bahwa penyesalan akan selalu ada diakhir nanti. Atau di waktu lainnya, ketika aku penasaran mengapa ia tetap menjawab tidak ketika dalam kondisi survive dengan sakitnya kami izinkan ia untuk pulang ke rumah.
Aku sedikit menyentil nya dengan pertanyaan bagaimana cara memotivasi diri ketika ingin pulang, kukatakan padanya bahwa aku sedang merindukan pulang. Luar biasa. Ini hanya tentang bagaimana mengatur cara berpikir. Ia menyarankanku untuk bersabar dan menganggap keberadaan di Pare ini sebagai situasi jalan yang sangat macet dan tiap lampu lalu lintas berwarna merah berlangsung lama sehingga perjalanan kali ini butuh waktu dua Bulan. Ah... aku yang saat itu memang merindukan rumah karena menerima kabar buruk, langsung menundukkan wajah dan merasa sangat malu.
Lekaslah sehat adik hebatku. Sehatlah selalu. Yakinmu untuk sehat insyaalloh terwujud. Alloh tidak tidur dan tidak lalai sedikitpun atas perjuanganmu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Jalan cerita Alloh sungguh sangat Indah. Percayalah. Seindah Alloh merencanakan perkenalan kita di SURAU MERANTAU. Terimakasih adik hebatku.
Ruang juang
Pare, 10 Agustus 2016
Nurmalia Nasution
[17:15, 8/21/2016]
Rurie Fathan: Saya GA meleleh donk baca tulisan kak nurma...tapi hujan deras...huhuhu
Nurmalia Nasution: Jd di buku tulis saya cuma ada 9 bagian. Cerita masing2 8 anak, 1 lagi bagian umum (gak fokus satu anak, atau mentor, atau orgtua), Mudah2an bisa jd obat rindu ayah bunda, dan mungkin bs jadi news update

0 Komentar untuk "Adikku Yang Luar Biasa, Ujian dan Kedewasaannya"