Awal tahun 2008 aku mulai merasakan merantau. 8 tahun hingga kini. Tidak sulit bagiku, melangkahkan kaki keluar rumah dan meninggalkan keluarga pun cukup mudah bagiku. Survive di perantauan, hidup seadanya, makan dengan lauk termahal sampai termurah, bahkan sering tidak makan, pun kulalui dengan sangat enjoy. Merantau dari satu daerah ke daerah lainnya adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Bahkan aku akan merasa sangat bosan ketika aku harus berada di rumah orangtuaku saja. Birrul walidain, menurutku tak harus melulu ada di rumah bersama mereka. Ini cara yang menjadi pilihanku mewujudkan birrul walidain.
Kemudahan bagiku, ternyata tidak demikian bagi delapan adik hebatku. Ini kali pertama mereka merantau. Pare. Baru saja memasuki hari kedua, adik hebatku sudah ada yang sakit. Begitupun keesokan harinya. Hari ini, hari kesepuluh, enam dari mereka kena gejala batuk flu. Imunitas adik-adik hebatku terganggu berawal dari makan yang ogah-ogahan dan tidur yang tak nyenyak. Aku dan temanku sepakat, ini masanya mereka sedang menyesuaikan diri dari serba ada menjadi serba cukup.
Aku dan segala perasaanku. Hubungan yang menurutku tak sekedar mentor dan rangmuda/i ini, membuatku selalu larut dalam doa-doa sepertiga malamku. Air mataku kuharapkan menjadi bukti kesungguhanku hari ini memohon kesehatan, kelapangan hati, kemampuan, kekuatan, serta kesabaran untuk mereka, adik-adik hebatku. Sukses fiddunya wal akhiroh serta Ridho Alloh atas setiap langkah dan aktivitas mereka menjadi akhir pintaku saat memunajatkan kekokohan delapan tiang penopang SURAU MERANTAU. Terimakasih adik-adik hebat untuk segala yang kalian perjuangkan.
Ruang Juang
Pare, 12 Agustus 2016
By: Nurmalia Nasution
[15:36, 8/21/2016]
Tag :
Kemandirian,
Merantau

0 Komentar untuk "Kekokohan 8 Tiang Penopang Surau Merantau"