[05:58, 9/21/2016] Nurmalia Nasution: Dua minggu ini, adik-adik kami grafik naik lebih sedikit kadarnya dibanding grafik turun. Tentu kami intropeksi diri. Whats wrong?
Hari ini begitu banyak kejutan dari adik-adik hebat ini. Mungkin mereka mulai bosan, sehingga mencuri cari perhatian kami dengan kejutan-kejutan istimewa.
Mulai dari buang air kecil di pelataran rumah tetangga, bullying, berjamaah telat sholat dengan posisi sudah di mesjid sejak 2,5 jam sebelumnya, bernyanyi dengan volume tak terhingga saat pengajian berlangsung di dekatnya, 'mengajak' teman bergurau saat belajar, menghalangi aktivitas camp dengan membawa kunci serta tidak izin, dan lain sebagainya.
Baiklah, kami pikir perlu tegas juga perlu keras. Keras bukan berarti kasar, keras bukan berarti kekerasan. Terkadang ada hal yang perlu dimaknai lebih, dalam hidup ini. Saat menyerahkan segala urusan kepada Alloh, inshaalloh hati pun tidak ada keraguan. Khawatir adalah hal yang manusiawi. Namun beberapa kekhawatiran perlu ketegaan.
Rindu fasilitas rumah salah satu faktor kejutan-kejutan ini. Dengan senang hati kami sangat ingin memfasilitasi anak-anak kami. Namun kami akan lebih senang, jika mereka kelak berhasil memfasilitasi diri mereka sendiri dengan perjuangan. Tidak mutlak harus demikian, namun mereka harus mencoba agar 'tidak penasaran'.
Rasa khawatir kerap kali muncul dalam hati kecil kami. Kembali kepada Alloh. Ternyata, kami dan mereka pun tidak menyadari bahwa kami dan mereka sesungguhnya sangat menikmati. Ternyata alam 'sadar' kami-lah yang memaksa kami 'menyadari' bahwa kami tidak menikmati ini, dan inilah yang memunculkan perasaan sedang hidup susah.
Rindu fasilitas tadi, kami hadiahkan untuk membuat sebuah rumah kardus dan di tempatkan dimana saja sebagai tempat tinggal pembelajaran. Namun hal ini belum terwujud karena sesuatu dan lain hal. Kami alihkan pembelajaran rumah kardus ke lapangan yang cukup luas.
Dimulai dengan muhasabah bersama, dan istirahat beralas rumput beratap langit. Kami pun turut serta dari kejauhan. Butuh beberapa waktu hingga kami ikhlaskan hati dan pasrahkan diri lillahita'ala, tidak ada yang menggunakan selimut dan hanya satu orang yang menggunakan jaket. No prepare untuk pembelajaran kali ini sangat membantu mereka memperoleh banyak ilmu. Sekali lagi, ikhlas. Alhamdulillah, wajah-wajah para pejuang begitu pulas.
Moving surau from 'surau seluas mata memandang' to 'surau sedalam hati terpaut'.
Sejuk sekali ketika air wudhu menyapu anggota tubuh kami. Tunaikan dua rakaat di sepertiga malam mulia, kemudian istirahat kembali. Hingga tulisan ini ada menanti subuh, wajah para pejuang sangat pulas dan lelap. Suara dengkuran para pejuang pun mengiringi doa-doa ini.
Obat khawatir yang mendalam. Tawakkal alalloh. Ikhlas. Semoga adik-adik hebat ini selalu sehat dan semangat. Sholeh, sholehah, inshaalloh.
Mesjid Ainul Hamid
Pare, 21 Sept 2016
03.30.
Salam rindu dari rantau.
[06:34, 9/21/2016] Widan Razeeq: MasyaAllah...
Saluut for Rangm7da dan Rangmud1.
[06:43, 9/21/2016] Ayi Bunda Syifa: 💪🏼lanjuuuuut
[17:14, 9/21/2016] Rurie Fathan: Semoga menjadi anak2 yang sholeh/ah, aamiin
[20:07, 9/21/2016] Aan Andri Yulianto: Amiin.. Ya Robbal'alamin

0 Komentar untuk "Merefleksi Diri Menyatu Dengan Alam"