Merekam Jejak Rangmuda/i Surau Merantau Sekolah Alam Tangerang

Belajar Merantau, Belajar Hidup

Jejak surau merantau belajar merantau belajar hidup


[08:10, 9/16/2016] Andri Fajria: Dari berbagai cuplikan cerita seru dan kadang mengharukan yang di share di grup ini, saya mencoba membuat tulisan di bawah ini. Mohon ditambahkan atau dikoreksi. Terimakasih
                     

Belajar Merantau, belajar hidup


Alhamdulillah semakin banyak pihak yang sepakat bahwa "Pendidikan Aqil Baligh" yang target kompetensinya di Sekolah Alam Tangerang kami sebut "The Responsible Natural Shepherd" adalah salah satu alternatif pendidikan dengan konsep unik yang memperkaya khazanah pendidikan Indonesia.

Beberapa sekolah mengundang kami ke sekolahnya untuk sharing dengan tim manajemen dan para guru, dan ada juga yang datang berkunjung ke SAT, dan lebih banyak yang berdiskusi lewat media sosial.

Sesungguhnya pendidikan aqil baligh mensyaratkan pembentukan aspek - aspek kedewasaan anak sejak dini, bagaikan menyusun bangunan dari bata demi bata. Dalam hal ini kami beruntung berkesempatan mendampingi beberapa  dari mereka sejak usia 3 tahun sampai dengan Sekolah Menengah "Surau Merantau" sehingga bisa menyaksikan proses tumbuh kembang sejak mereka kami sebut "Teman kecil" sampai kini kami panggil mereka "Rangmuda".

Karena itu menurut kami sangat sulit bila memulai "pendidikan aqil baligh" sejak usia SMP/SMA.

Namun karena banyaknya pertanyaan yang ditujukan kepada kami, tentang Sekolah Menengah "Surau Merantau", mudah - mudahan sekelumit tulisan di bawah ini bisa memberikan gambaran :

1. Secara kedinasan, SM "Surau Merantau" Sekolah Alam Tangerang menginduk kepada Bidang Pendidikan Luar Sekolah, Dinas Pendidikan Kota Tangerang. Dengan demikian SM memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan program programnya tanpa terikat dengan jadwal ujian, jadwal pembagian raport, dll.

2. Para Rangmuda didampingi oleh kakak mentor yang berperan sebagai motivator, konselor, ustadz, dan coach mereka. Ada beberapa mentor : mentor surau, mentor lapau, dan Inyiak badae'. Mereka bekerja sebagai sebuah tim yang kadang mendampingi para rangmuda di sisinya, dan kadang cukup mengawasi dari jauh.

3. Inti dari pendidikan SM adalah TEGA membuat para rangmuda dalam kondisi susah yang akan memunculkan potensi terbaik mereka". Kami meyakini bahwa ALLAH SWT telah memberikan 2 kemampuan dasar kepada semua makhluk ciptaannya yaitu kemampuan bertahan hidup dan kemampuan meneruskan keturunan". Maka dalam kondisi kepepet insya Allah naluri bertahan hidup akan membawa mereka survive melewati kesulitan tersebut.

4. Merantau selama 2 bulan adalah sebuah bentuk belajar hidup yang efektif. Mereka harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari, ada yang memilih tidak sarapan selama seminggu sekedar supaya bisa merasakan mewahnya jasa laundry, belajar membuat laporan keuangan mingguan, ada yang terus belajar mengelola berbagai barang pribadinya yang sering tercecer entah kemana, belajar menangani konflik di antara mereka, berpetualang backpacker menikmati keindahan alam di sekitar tanah rantau, dan banyak pengalaman pembelajaran seru lainnya yang sulit didapatkan di bangku sekolah.
Namun tentu saja merantau tidak selalu berisikan kisah beratnya perjuangan hidup semata. Ada banyak keceriaan, saat mereka bermain bola dengan para sahabat baru setempat, saat berkeliling kampung dengan sepeda sewaan yang membuat mereka harus lebih hemat lagi dengan pos pengeluaran lainnya, saat membagikan daging hewan qurban, dan saat menikmati uang hasil berjualan mereka.....

Belajar Merantau berbeda dengan belajar menghadapi tantangan fisik yang mereka hadapi sebelumnya saat ekspedisi di tingkat SD. Tantangan merantau selama 2 bulan juga pasti berbeda dengan tantangan program homestay yang hanya 5 hari. Belajar merantau adalah belajar menghadapi segala tantangan hidup dalam kehidupan nyata.

Semoga suatu hari nanti para Rangmuda ini bisa merantau sampai ke berbagai belahan dunia sambil terus menebar kebaikan bagi alam semesta.

Tangerang, 16 September 2016
Andri Fajria dan Bunda Tik
Sekolah Menengah "Surau Merantau"
Sekolah Alam Tangerang                        
[08:16, 9/16/2016] Andri Fajria: Komentar teman kuliah saya, seorang programmer :                        
[08:16, 9/16/2016] Andri Fajria: [16/9 08.01] Rusmin MTI 99: Andri Fajria
Walau saya non muslim, cuman saya sependapat dgn anda.
Sekolah formal udah salah arah...

[16/9 08.06] Rusmin MTI 99: Kemarin saya nonton Festival Kopi Flores di Bentara budaya palmerah...
(Masih buka sd minggu(?))..
Jadi ceritanya udah minum kopi gratis duduk saya di satu bangku.
Muncul seorang ibu (usia 57 katanya) duduk juga di samping bangku itu...
Keluarga menengah...
Cerita punya cerita...
Ibu itu bawa anaknya katanya bungsu (mungkin usia 25-27)..nganggur.. dan dari tampang sih anaknya mungkin S1. Tapi nganggur !!!
Jadi si anak mau belajar buat kopi (mungkin mau buka kedai kopi kecil)...
Sekolah formal sudah GAGAL !

Baliklah ke ilmu dasar !
Ilmu hidup yg sederhana...
Ilmu ketrampilan !

[16/9 08.12] Rusmin MTI 99: Persentase nganggur tertinggi sekarang adalah S1 !
Dan anak temanku skrg semua maunya dan sudah sekolah S2!
Sekolah terus sampai tuwa !
Tanpa ketrampilan dasar !
Ilmu membujuk...
Ilmu mendengar dan berbicara...
Ilmu-ilmu dasar...
....
Kemaren jumpa anak temanku tamat S2 di Singapore...
Kerja maen game di kamar melulu dan tak ada temannya...
Bukan 1-2 orang yg pernah kulihat begitu...
Ratarata begitu...
Terakhir punah orang Cina !
                       
[08:21, 9/16/2016] Aan Andri Yulianto: Alhamdulillah Pak Andri sangat membangkitkan, semog kami bisa lebih banyak belajar bersama mereka, doa dan supportnya. Terimakasih banyak...

[16:49, 9/16/2016] Ayi Bunda Syifa: Sepakat ama Pak Andri..pendidikan akil baligh ga bisa dimulai smp..harus dimulai dari bayi👶...harus aga 'tumbuh alami liar' dikit bibitnya...hehehe..                    

0 Komentar untuk "Belajar Merantau, Belajar Hidup"

Back To Top