Mengapa harus merantau?
“Proses pembentukan generasi aqil-baligh pada dasarnya akan terjadi melalui tempaan kehidupan, dengan segala tantangan, kesulitan, cobaan dan ancaman”.
Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa dengan sumber daya alam dan keindahan yang melimpah, yang berpotensi melahirkan kemalasan. Maka merantau adalah solusinya.
Sejatinya kehidupan adalah tempat belajar, menguji iman, beribadah dan beramal yang sebenarnya. Dan indikator kelayakan hidup adalah survival di perantauan.
Oleh sebab itu penguasaan kompetensi keilmuan dan kecakapan hidup lainnya hanya didapatkan melalui perilaku “menuntut” : menjelajahi hidup dari guru ke guru.
Jika ditanyakan kepada siswa/i kelas 9 SMP dan kelas 6 SD secara bersamaan tentang apa yang sudah didapatlan di sekolahnya sehingga memiliki karakter dan tujuan hidup, maka sebagian besar dari mereka dominan belum terlihat sebuah karaker hasil dari proses pendidikan yang selama ini mereka ikuti. Kecuali kognisi dengan ukuran nilai-nilai dan angka-angka dalam selembar ijazah mereka.
Artinya, hampir tipis perbedaanya karakter antara siswa kelas 6 dengan siswa kelas 9 saat ini. Apa yang salah dalam proses pendidikan kita saat ini?.
Salah satu yang menyebabkan hal diatas adalah karena anak-anak saat ini dididik dengan terlalu “lemah lembut”, kurang diberikan tantangan hidup yang sebenarnya menstimulasi nalar kreasi mereka. Coba bisa disaksikan tokoh-tokoh cendekiawan yang kita kenal saat ini apakah hidupnya dahulu dalam ketiadaan masalah, tantangan dan kesulitan!.
Beberapa kondisi diatas menjadi keyakinan Sekolah Alam Tangerang yang mengambil konsep budaya lokal (local wisdom) sebagai basis paradigma proses pendidikannya, yakni Surau dan Rantau untuk Sekolah Menengahnya (3 tahun: setara SMP-SMA).
Jadi bagi mereka yang melanjutkan studi bisa langsung ke PTN/LN, atau yang ingin mengembangkan diri disesuaikan dengan passion pilihan mereka.
Mengapa harus merantau, karena:
- Bertualang dan Menuntut,
- Berguru kepada Alam,
- Berguru kepada Pengalaman,
- Berguru kepada Cerdik-Pandai,
- Berwirausaha,
- Pengembangan Life-skills,
- Berbagi Ilmu dan Pengalaman.
#Student Coaching: Chek kesiapan mereka...
#Kloter Satu: Bromo-Kelud-Pare 2016 (Agust-Sept)
Revisi Prepare PARE
1. Komunikasi
- Tidak boleh membawa HP/laptop (komunikasi bisa melalui perwakilan mentor)
- Hari komunikasi bersama rangmuda/i (2xseminggu : setiap selasa dan jumat ba'da ashar, 16.00-18.00 @15 mnt)
- Mohon dimotivasi dan dikuatkan (doakan diberi kekuatan)
- Informasi:
• perjalanan menuju Pare dan pulang
• program mulai dijalankan
• laporan perkembangan program setiap pekan
• foto kegiatan dan hasil pencapaian english camp
2. Perlengkapan yang boleh dan tidak boleh.
- Pakaian 6 stel (trmsk pakaian olahraga)
- Pakaian sholat 1 stel dan alqur'an
- Sepatu dan sandal @1 pasang
- Perlengkpn makan (botol minum,sendok,lunch )
- Perlengkapan mandi
- Obat2an pribadi (jika dirawat di RS biaya diserahkan ke orangtua)
- Menyiapkan bekal mkn siang dan malam utk di perjalanan
- Kamus inggris-indonesia
- P3k
3. Keuangan/pegangan individu rangmuda/i
- Maksimal 1.200.000,- (untuk kebutuhan makan dititip ke mentor)
4. Keperluan kelompok
- Rice cooker / 2 liter
- Alat cuci/mandi: ember, sikat, dan gayung *)
- P3k standar *)
- Galon air minun *)
Ket:
*) dapat di-adakn setelah tiba di Pare
mohon adik2 dipastikan membawa sesuai yg sudah disampaikan diatas
By Nurma
Tag :
Kemandirian,
Semangat

0 Komentar untuk "Mengapa Harus Merantau? Persiapan Menuju Pare Kampung Inggris"