Merekam Jejak Rangmuda/i Surau Merantau Sekolah Alam Tangerang

Belajar START FINISH dari "belajar makan"



[11:00, 9/1/2016] Andri Fajria: Belajar Makan ....... (2)

Dalam sessi tanya jawab, seorang ustadzah mengangkat tangannya mohon izin untuk berkomentar.
"Dari tadi saya mengamati 2 anak ini (Anak kami, Faris 10 tahun dan Azizah 7 tahun). Mereka memakan buah kelengkeng yang disediakan, lalu kulit buah dan bijinya dimasukkan ke dalam botol bekas minuman yang sudah kosong". (Sambil mengangkat botol munuman yang sudah penuh berisi kulit kelengkeng dan bijinya, menunjukkannya kepada seluruh hadirin)
"Sementara Kita di sini sulit sekali mengingatkan para tholibah yang usia SMP dan SMA untuk menyimpan sampah sisa makanan di tempatnya. Mohon kiat kiat nya untuk mengatasi masalah ini"

Kiat dari kami, berdasarkan pengalaman di Sekolah Alam Tangerang:

Belajar START FINISH dari "belajar makan"

Dalam beberapa kegiatan ibadah, jelas sekali bahwa kegiatan ibadah tersebut memiliki start-finish yang jelas.
Contoh : shalat dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Shaum dimulai saat masuk waktu subuh dan diakhiri saat masuk waktu maghrib.

Definisi start - finish yang jelas ini dan difahami oleh setiap muslim, mempermudah kita menjalankan ibadah dengan sempurna. Seseorang dapat mengingatkan bila ada orang yang makan sebelum azan maghrib, atau anak anak yang langsung pergi sebelum imam menyempurnakan  salamnya.

Bila pemahaman start-finish ini digunakan dalam aktivitas "belajar makan", maka setiap anggota keluarga akan memiliki definisi yang jelas tentang aktivitas makan di keluarga tersebut.
Contoh : aktivitas makan di sebuah keluarga diawali dengan mengambil piring dari lemari, lalu mengambil nasi di rice cooker, ........ dst, ......, lalu menghabiskan makanan, lalu mencuci alat makan.
Di keluarga lain, kegiatan makan dimulai dengan duduk di kursi ruang makan (piring dan semua makanan sudah ada di atas meja), lalu mengambil makanan yang dikehendaki, ......, lalu menghabiskan makanan, dan meletakkan alat makan di tempat cuci piring (tidak perlu mencuci alat makan).

Maka dalam kasus para tholibah di atas, wali asrama bisa mendefinisikan (=membuat aturan) bahwa kegiatan makan harus sampai membuang sampah pada tempatnya.
Ketika aturan tersebut jelas, maka para tholibah dapat saling mengingatkan di antara mereka bila ada temannya yang melanggar aturan.

Pemberlakuan start finish yang jelas juga memudahkan kita mengajarkan anak untuk tuntas bekerja. Menurut informasi dari salah seorang teman di BUMN, para fresh graduate sekarang ini ("Y Generation") antara lain memiliki kekhasan : bekerja cepat, memiliki akses informasi yang luas, namun terlalu cepat beralih dari 1 pekerjaan ke pekerjaan yang lain (= tidak tuntas bekerja). Semoga dengan menerapkan konsep ini kita bisa menanamkan rasa tanggung jawab untuk tuntas bekerja.

Selamat mencoba...semoga sukses.

Tangerang, 1 September 2016
Andri Fajria dan Bunda Tik
Sekolah Alam Tangerang                      

0 Komentar untuk "Belajar START FINISH dari "belajar makan""

Back To Top