[07:30, 9/2/2016] Andri Fajria: Belajar makan ..... (3)
Episode : Mujahadah di meja makan
Proses "belajar makan" pada prakteknya tidak semudah seperti yang saya tuliskan sebelumnya. Bagi hampir semua siswa baru (baik di SD maupun di TK), butuh waktu sekitar 1 bulan untuk bisa beradaptasi. Dan selama masa adaptasi tersebut, kadang diwarnai dengan derai air mata, ekspresi menahan tangis, menutup hidung, memejamkan mata, bahkan memuntahkan makanan.
Sebagian dari Kita orang dewasa mungkin sudah lupa perjuangan kita dulu melawan rasa tidak suka (karena) bau buah pepaya. Hanya karena beberapa kali telah mencoba memakan buah pepaya tersebut, lidah kita menjadi semakin familiar dan mulai bisa menikmati manisnya rasa buah pepaya.
Atau seperti saya yang dibesarkan dengan cita rasa masakan Minang yang didominasi santan dan cabe, perlu waktu untuk beradaptasi dengan masakan sehat Sunda versi keluarga istri saya. Beberapa kali saya menolak memakan pepes, walaupun berkali kali mertua saya memotivasi saya..."Ini pepes,.... cobain.... enak", kata beliau. Dan selalu saya tolak. Sebelum akhirnya saya mencoba menikmatinya, sampai akhirnya bisa menerima rasa "enak" seperti yang diiklankan oleh mertua saya.
Sekarang, bisakah anda bayangkan..... bila penolakan seperti di atas dilakukan oleh anak usia 3 atau 4 tahun ? Apa yang kira - kira akan mereka lakukan untuk mengekspresikan penolakan dan perasaan tidak suka mereka ?
Maka peranan guru sangat besar, untuk menyeimbangkan antara target tahapan pembelajaran (mulai dari berani memegang makanan yang tidak disukai, menatapnya, menciumnya, menjilat, memakan sepotong, 2 potong, dan seterusnya...) dengan mencari bentuk motivasi yang sesuai dan efektif (menginformasikan manfaat makanan tersebut bagi tubuhnya, coba dulu kenali tekstur dan rasanya, berfikir positif, bahkan sampai "sugesti positif") serta limitasi waktu (karena masih ada serangkaian kegiatan lain setelah makan). Di SD, limitasi waktu tersebut membuat anak anak yang belum menghabiskan makanannya mendapat konsekwensi..... menghabiskannya di bawah pohon ceri di depan saung kelas nya, sementara teman - temannya mencuci piring, menyikat gigi, dan shalat zuhur.
Bagian Catering sekolah turut bekerjasama untuk menyukseskan program belajar makan ini dengan mengurangi derajat rasa pedas, dan memperbanyak menu berkuah selama masa adaptasi ini.
Maka sebuah kebahagiaan dan rasa syukur yang selalu kami panjatkan kepada Allah SWT bila setelah melewati masa transisi tersebut, "teman - teman kecil" kami sudah bisa makan berbagai makanan yang disajikan.
Sungguh, di meja makan terdapat sebuah "medan perjuangan" bagi anak anak kita.
Catatan khusus untuk evaluasi guru :
1. Konsep "start finish" dalam tulisan lalu bertujuan membangun tanggung jawab bekerja tuntas (=selesaikan kegiatan yang sudah anda mulai). Ada dalam Curricular Domain, yaitu Domain AFEKSI, sub Domain INDUSTRY.
2. Konsep Mujahadah dalam tulisan ini bertujuan membangun daya juang anak (=tidak mudah menyerah), ada dalam domain AFEKSI, sub domain SELF ESTEEM.
Tangerang, 2 September 2016
Andri Fajria dan Bunda Tik
Sekolah Alam Tangerang
[13:53, 9/2/2016] Nurmalia Nasution: Siapa yg jadi Bintang iklan PIE? Saya kak. Terimakasih ayah bunda
0 Komentar untuk "Belajar Makan, Mujahadah di Meja Makan"