![]() |
| Bersama Datuk Bijo nan Hitam |
SM News Payakumbuh Pekan Pertama Merantau
13-18 Februari 2018Selasa, 13/02/3’2018
Mendarat di Bandara Internasional Minangkabau dengan selamat dan lancar, walau sempat pilot menginfokan cuaca kurang baik dipertengah perjalanan, sehingga berulang kali mengingatkan para penumpang untuk mengikat sabuk pengaman. Terlihat cengar cengir rangmuda/I begitu turun dari pesawat, rasa bahagia nampak dari wajah optimis mereka. Kami langsung menuju Payakumbuh yang ditempuh dengan travel selama kurang lebih 3 jam belum dipotong dengan sholat dan makan. Sempat mampir di lembah anai sesuai informasi dari Bunda Tik ke Payakumbuh jangan lewatkan turun disini, curug lembah anai yang jernih dan segar dengan ketinggian yang sedang taksiran rangmuda tidak lebih dari 50 kaki.Sampai di Payakumbuh disambut dengan ramah oleh Pak Budi dan Uni Fajrahmi yang merupakan pewaris rumah gadang yang bisa kami singgahi selama di Payakumbuh. Kesan pertama seperti di negeri upin ipin kata salah satu rangmuda. Suasana cuaca cerah walau musim hujan disini. Langsung menata barang dan diberi sedikit pijakan oleh Pak Budi tentang adab dan hal-hal yang boleh dan tidak boleh di rumah adat.
Belajar Perdana; Silek Minang Saiyo
Malamnya setelah dihidangkan menu special ala Minang rangmuda/I menyantap dengan ludes tanpa ampun. Hehehe.
Setelah isya kami langsung berlatih silek perdana dengan salah satu murid datuk Bijo nan Hitam. Sampai jam 22:30 tak terasa kami belajar dasar-dasat silek seperti pukulan, tangkisan dan hindaran. Filosofi silek adalah bagian dari beladiri, fokusnya adalah hindar diri dari tempat berdiri.
Malam begitu cepat, mungkin karena lelah rangmuda/I tidur dengan pulas, alhamdulillah shubuh disini 5:30 bangun jam 04:30 tidak tertinggal untuk jamaah.
Hari pertama yang berkesan seperti di negeri antah brantah, masih banyak rumah-rumah adat yang sangat khas yang dulu hanya kami saksikan di tivi. Kalaupun pernah, hanya di TMII. Hehehe.
Rabu, 14/02/2018
Bertemu dengan datuk Bijo nan Hitam salah satu penghulu dan ketua KAN (Kerapatan Adat Nagari) yang secara struktural langsung ke Kerajaan Pagaruyung di Padang. Malam ini kami belajar memahami budaya dan sejarah minang, dari falsafah, sumpah marapalam yang baru tahu juga merupakan titik balik dari konsep surau yang harus dijalankan oleh Nagari di kerajaan Pagaruyung pada masa Bakila Alam pada tahun 1403 M. Bakila Alam mewajibkan Nagari dengan Niniak Mamak agar mendidik kemenakan di surau dan kompetensi wajibnya adalah silek.Pada sesi ini rasa ingin tahu rangmuda/I tentang adat minang terjawab dengan banyak diskusi dan tanya jawab. Beberapa mereka sangat antusias bertanya tentang surau, merantau dan falsafah hidup ala minang. Datuk Bijo sangat terbuka dan antusias dan tidak mau kalah semangatnya dalam menjawab, baru ditutup setelah terlihat beberapa rangmuda terkantuk-kantuk.
Kamis, 15/02/2018
Seharian kami mendalami kembali materi Datuk Bijo, pada hari ini rangmuda membuat narasi hasil diskusi dan tanya jawab sebelumnya. Terbagi dalam empat kelompok masing-masing membuat narasi tentang:- Perjanjian marapalam
- Filosofi rumah adat
- Sejarah Surau
- Sejarah Kota Payakumbuh
Pengalaman langsung mereka menjadi bekal memaknai sebuah komunitas adat yang unik, yang bisa dimasukan dalam aktivitas sehari-hari. Sorenya kami belajar langsung membuat media tanam budi daya bawang merah. Sebelumnya di oagibharu kami survei sawah yang akan dibuat penyemaian dan memilih bibit padi. Pengalaman langsung melihat proses awal bertani tanaman padi. Alhamdulillah semua antusias karena mungkin hari ini ada yang baru langsung melihat dan hadir ditengah-tengah sawah yang banyak petanu sibuk memanen hasil jerih payah yang bilangannya cukup lama berbulan-bulan. Pulangnya kami lanjut panen kakao dan duren belanda (sirsak).
Jum'at, 16/02/2018
Jumat penuh berkah kami kerja bakti, membabat rumput dan tanaman liar di sekeliling rumah gadang yang mungkin karena kesibukan pak Budi mengurus sawah 10 hektar tidak sempat menyiangi rerumputan sekitar rumah. Alhamdulillah berbekal arit, sapu, cangkul kami bisa membuat suasana sedikit berubah, tanaman rose yang ngumpet jadi terlihat, lidah buaya yang tersembunyi jadi terlihat hijaunya. Sorenya kami belajar langsung dengan salah satu anggota polisis yang sholih (in syaa Allah), pengalaman beliau merantau sampai berkeluarga di minang membuat kami kagum, baru menemui anggota pak polisi yang fasih membacakan ayat dan hadits dan memotivasi kami agar kemanapun tidak boleh lepas dengan quran dan sunnah. Wah bisa dibayangkan kalau pak polisi seperti ini bertebaran di pelosok kota-kota Indonesia. Ternyata pak polisi Ersin Wahab ini asli NTB dan pernah tinggal di Tangerang sebelum ditugaskan di Payakumbuh. Nasehat beliau cukup panjang, punya putri kelas 2 yang sudah hafal 3 juz. Mengingatkan kami juga bahwa seorang muslim seperti rumah kosong tidak berpenghuni jika tidak ada hafalan ayat al quran. Terimakasih pak polisi keren menjambangi kami bertugas sekaligus berdakwah.Sabtu, 17/02/2018
Pagi ini rangmuda/I observasi sekaligus validasi data eksistensi rumah gadang di Kelurahan Balai Kaliki Nagari nan Gadang ini, masing-masing ada yang turun ke lapangan mendata rumah gadang yang masih dihuni dan sudah roboh, berikut juga jumlah Rangkiyang kalau di Jawa seperti lumbung. Jumlah 15 Rumah Gadang dengan 16 Rangkayiang ditemukan rangmuda/I (Syifa) peta adat pun coba dibuat (Razeeq dan Rayhan), serta kondisi sosial ekonomi yang terlihat dari aktivitas warga (Fathan dan Farros), termasuk kondisi surau dan masjid yang menunjukan religiusitas masyarakat Kaliki (Madyan dan Fathur).Setelah dhuha dan snacktime, kami pergi ke sawah untuk panen raya dan belajar sedikit tentang jenis hama dan varietas padi yang ditanam petani Payakumbuh. Suasana panas ditengah sawah tidak menyurutkan kami memanen, karena belum pengalaman kami dijatah satu petak baru seperempatnya selesai dan akan dilanjutkan lusa. Pulangnya kmai juga dikenalkan bahwa setiap rumah gadang selalu mengikuti aliran air sungai terlihat dari keberadaan banda (sungai kecil) yang selalu dekat surau adat berfungsi untuk membersihkan diri setelah dari sawah sebelum naik ke rumah gadang. Ada rumah gadang, ada surau, ada banda, ada kuburan dan ada tabek serta pohon kelapa merupakan perwujudan kesatuan sarana prasarana yang dimiliki oleh datuk dan kaumnya yang berarti berasal dari golongan terhormat dan mulia. Sederhana namun banyak memiliki keunikan falsafah, itulah local wisdom.
Minggu, 18/02/2018
Setelah praktek stresing ala silek dan pernapasan pagi ini agenda kami kerja bakti gotong royong. Pertama dengan warga untuk merapihkan jalan sekitar surau djamboe dan kedua gotong royong buat dapur di rumah Datuk Bijo nan Hitam, sorenya silek malam kami akan belajar syarak dan budaya bersama datuk Bagonjong. Terimakasih banyak doa-doa yang tak pernah putus dari ayah dan bunda, yakinlah bahwa rangmuda/I pasti mampi mengatasi segala tantangan disini, sampai hari yang sedang kurang fit ada rangmuda Farros (flu) dan Madyan (pusing) mungkin karena kemarin dari sawah terlalu bersemangat. Hehehe. Salan dari kami rangmuda/I di tanah Minang, Balai Kaliki.Oh ya apapun makanannya disini kami sangat menikmati, raso pareso beriringan.
Wassalamualaikum.
Pekan ke-1
Surau Merantau di Balai Kaliki, Payakumbuh



0 Komentar untuk "Pekan Pertama Merantau di Payakumbuh"