Merekam Jejak Rangmuda/i Surau Merantau Sekolah Alam Tangerang

Masjid Dan Surau Ketika Awal Merantau

Masjid Dan Surau Ketika Awal Merantau

MASJID dan SURAU ketika awal MERANTAU


“Masjid dan surau adalah medium persiapan, pembentukan dan pematangan, sebagai titik tolak, shelter dan tempat pulang, agar seorang hamba Allah siap mengarungi kehidupan”, inilah yang melatarbelakangi mengapa konsep SURAU harus dibumikan kembali dalam proses pendidikan menuju anak aqil baligh.

Sebuah titik balik atas keraguan terhadap konsep pendidikan “warisan kolonial” yang masih tambal sulam. Walaupun kita harus tetap objektif menerima banyak sisi dari “warisan kolonial” yang bisa diambil untuk kemajuan dan persiapan masyarakat menuju era berikutnya.

Masjid perlu dikembalikan fungsinya sebagai rumah, tempat hamba meninggikan, berdzikir dan mensucikan Allah. Karena masjid yang semacam itu adalah tempat turunnya hidayah. Hidayah turun bukan tanpa sebab. Bukan kah begitu ya ustadz?.

Apakah hidayah akan turun ke ruang-ruang masjid, sementara masjid-masjid tersebut terkunci dengan rapat, digembok secara fisik maupun pikiran pengelolanya.

Masjid perlu dijadikan sebagai tempat pulang dan istirahat bagi para perantau (ibnu sabil), tempat untuk berbagi ilmu dan pengalaman, tempat untuk memulihkan ruhani. Melalui sarana ini transformasi ilmu dan peng’alam’an dari perantauan bisa berjalan sehingga mampu menjadi pencerah bagi penduduk setempat.

Pengalaman Merantau Mas Upi

Berikut pengalaman seseorang, sebut saja Mas Upi namanya, ketika pertama kali awal merantau ke Jakarta, saat itu pengumuman beasiswa di kampus Islam Negeri di Ibukota atas kerjasama al-Azhar Cairo (jauh sebelum Assisi berkuasa) menjadi berita gembira bagi dirinya dan tentu keluarganya di Kampung. Mas Upi berangkat ke arah Lebak Bulus untuk menuju kampus terkenal tersebut. Rupanya Mas Upi harus menginap di Jakarta, karena alasan urusan adminsitrasi dan efektif serta efesien ia meyakinkan diri untuk tidak balik ke tempat saudaranya di Pluit, hari sudah larut malam.

Kiri Bang, kiri..., demikian Mas Upi memberi aba-aba ke kondektur Kopaja P.86 jurusan Lebak Bulus-Kota. Dan Mas Upi memutuskan untuk berhenti dan menju sebuah Masjid persis di seberang Pondok Indah Mall (PIM) dari arah Lebak Bulus sebelum JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) atau kalau sekarang sudah menjadi bagian Mall yang super sibuk itu. Jika kepala menengok ke kiri maka tampak bagi saudara-saudara menara Masjid dimaksud.

Sholat maghrib dilanjut isya Mas Upi sengaja makmum dalam Masjid ini. Sambil mengamati orang-orang didalam ia berbisik mungkin ini pengurus Masjidnya. Dan langsung Mas Upi menyampaikan maksud dan tujuannya hendak bermalam (mabit) di Masjid ini. Apa jawabanya saudara-saudara seiman?.

“Kamu dari mana?”, tanya pengurus agak kurang bersahabat, bahkan penuh curiga.
“Dari Kampus IAIN Pak”, jawab Mas Upi.
“Saya calon mahasiswa disana pak”,imbuh Mas Upi.
Selanjutnya dengan basa basi pengurus Masjid (masih dalam curiga) mengajukan banyak pertanyaan yang diluar keperluan dan kepentingan dirinya.

Dan yang menakjubkan adalah ketika ditanyakan tentang membaca al-Qur’an. Mas Upi saat itu menuruti kelakuan pengurus Masjid. Setelah membaca, kemudian di tanya “test tepatnya” ada gak hafalan yang dimiliki dan disuruh membacanya. Dalam hati Mas Upi, ini orang serius atau hanya mempermainkan dirinya. Sampai-sampai mengetest begitu banyak hanya untuk mau numpang mabit “menginap”.

Padahal Mas Upi tahu kualitas bacaan pengurus tadi waktu sholat maghrib. Tanpa pikir panjang ia tetap mengikuti pertanyaan demi pertanyaan yang mungkin belum pernah ada tiket nginep di dalam Masjid dengan test seperti itu. Hatta sekalipun di dalam Masjid-masjid dunia Arab mungkin tidak seperti itu. Ayat kursi, lamyakunil, bahkan surat Yaasin diminta untuk dibacakan tanpa melihat waktu itu.

Entah apa yang ada dalam benak pengurus Masjid tersebut, Mas Upi dinyatakan tidak layak untuk hanya sekedar bermalam satu malam di Masjid ini. Karena masjid harus digembok! demi keamanan. Ia pun dengan rela “ngeloyor” dan pasrah harus meninggalkan Masjid ini dan sampailah ia di rumah sauadaranya jelang tengah malam setelah susah payah banyak berganti kendaraan di gemerlapan Ibukota. Paginya jam 06:00 ia wajib sudah berada di kampus barunya karena masih proses PROPESA (proses pengenalan kampus). Ini salah satu pengalaman ketemu masjid yang secara fisik juga telah digembok dan secara ruhiyah juga tergembok. Bagaimana Masjid-masjid dan surau-surau sekitar Anda?.

Alhamdulillah, bersyukur mendengar informasi (walaupun belum sempat berkunjung) ada Masjid seperti Jogokarian yang fenomenal itu, dengan pengelolalan yang baik dan memberdayakan masyarakat sekitar. Bahkan untuk ibnusabil (tamu dari jauh) diberikan hak istimewa. Semoga secepatnya ada waktu belajar kesana. Mengelola masjid dengan manajemen berbasis Ummat.

Dari cerita Mas Upi diatas ingin mencatatkan kembali, bahwa peran Masjid itu tidak bisa disepelekan. Jika Ummat ini ingin bangkit, maka bangkitkan “makmurkan” masjid-masjid dan surau-suraunya. Belajar dari Turky Erdogan, misalkan tidak bisa dinafikan bahwa salah satu yang menggagalkan kudeta “sambel iler” oknum militer Turky antara lain karena Masjid-masjid sudah mulai kembali dihidupkan sejak satu dasa warsa yang lalu. Wallahu'alam.

Masjid Merupakan Tempat Turunnya Hidayah

Dari cerita ini juga mengambil pelajaran bahwa masjid perlu dikembalikan fungsinya sebagai rumah, tempat hamba meninggikan, berdzikir dan mensucikan Allah. Karena masjid yang semacam itu adalah tempat turunnya hidayah. Hidayah turun bukan tanpa sebab. Bukan kah begitu ya ustadz?.

Dan kembali bahwa “Masjid dan surau adalah medium persiapan, pembentukan dan pematangan, sebagai titik tolak, shelter dan tempat pulang, agar seorang hamba Allah siap mengarungi kehidupan”.

Dengan semakin kuatnya arus globalisasi dan modernisasi yang masuk ke masyarakat kita saat ini, maka penyikapan yang kita lakukan juga harus sesuai dengan kondisi saat ini. Mengembalikan fungsi masjid dan surau tidak mustahil bisa dilakukan. Maka yang mula-mula dapat dilakukan adalah memaksimalkan berbagai peran yang masih dapat dilakukan masjid dan surau saat ini, sebagaimana yang diawali oleh Masjid Jogokarian.

Menjadikan masjid dan surau sebagai salah satu institusi pembentuk karakter dan kepribadian Islam masih mungkin dilakukan. Misalnya saja membiasakan anak-anak untuk memakmurkan masjid dan surau dengan berbagai aktivitas, tidak harus melulu untuk ngaji. Belajar apa saja yang bermanfaat asal tidak merusak dan mengganggu kenyamanan lingkungan.

Harapan bagi kita bersama, masjid dan surau kembali dapat memainkan peranannya dalam membentuk kepribadian anak anak, remaja dan pemuda Islam. Jangan sampai Masjid dan surau justru jauh dari jatuhnya hidayah itu. Wallahu’alam.

Selamat menghidupkan kembali budaya berjama’ah di masjid dan melepas anak-anak remaja tinggal di Masjid atau surau. Agar mereka kelak dimanapun tanah rantaunya tetap menjadi bagian kelompok yang akan dinaungi ketika hari tidak ada naungan kecuali naunganNya, yaitu pemuda yang hatinya selalu tumbuh dan tertambat dengan Masjid”.

Pernah mendengar tokoh Tionghoa dan Cendikiawan muslim, pakar ekonomi syari'ah Muhammad Syafii Antonio, salah satu yang dialaminya ketika tidak ada kerabat yang menerima setelah beliau di usir oleh keluarganya ketika pertama kali masuk Islam adalah tertambat di Masjid. Yuk kembali ke Masjid dan Surau kita!!!

By Andri Yulianto

Mentor Surau Merantau (SM) Sekolah Alam Tangerang (SAT),
Aktif juga sebagai Relawan Komunitas Guru Inspiratif (KGI).
0 Komentar untuk "Masjid Dan Surau Ketika Awal Merantau"

Back To Top