Merekam Jejak Rangmuda/i Surau Merantau Sekolah Alam Tangerang

Berpetualang Mencari Guru Kehidupan

Berpetualang mencari guru kehidupan
Syifa bersama salah seorang guru kehidupan

LAPORAN HASIL DARI UJIAN, BERPETUALANG MENCARI GURU KEHIDUPAN.


Selasa, 20 Desember 2016.

1. saya membawa kartu e-money yang diberi oleh umi dari rumah. Saya pikir, kartu e-money yang saya bawa tidak berisi. Akhirnya saya pun pergi ke tempat isi ulang kartu sekali pakai. Ternyata, di sana e-money tidak dapat diisi. Berhubung saya panik dan antrian di belakang saya sudah cukup panjang, takut berlama-lama akhirnya saya membeli tiket sekali pakai ke arah Bogor seharga Rp.18.000.

Ternyata tiket menuju arah Bogor tidak berlaku ke tempat tujuan saya yaitu St.Djuanda. Kartu saya pun di tahan di St. Djuanda. Akhirnya saya tidak menukarkan kartunya dengan uang Rp.10.000.
Saat pulang, saya mengecek kartu e-money yang saya bawa tadi. Ternyata kartu e-money saya ada saldo sekitar Rp.58.000. Saya pun pulang mengguakan kartu e-money yang saya bawa. Jika sebelumnya saya mengetahui kartu e-money yang saya bawa berisi, maka saya tidak perlu membeli tiket sekali jalan.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Hidup itu harus punya tujuan yang jelas dan harus di rencanakan.
2. Tenang. Seharusnya saya mengecek terlebih dahulu kartu e-money yang saya bawa.
3. Pastikan semua kelengkapan/kebutuhan sebelum bertindak/melakukan kegiatan.

2. Saya pun mulai perjalanan saya dari St. Poris, menuju St. Duri. Di St. Duri saya ragu antara jalur 1 atau 2. Tapi, jika saya amati saat berada di dalam kereta jurusan St. Tangerang- St. Duri, kereta tujuan manggarai ada di jalur 2. Saya pun menyebrang, karena saya kira jalur 2 berada di seberag. (saya tidak memperhatikan papan tujuan.) . Saya pun masuk kereta-nya. Saat ada pengumuman, ternyata kereta yang saya naiki berada di jalur 1 dengan tujuan akhir St. Jatinegara, tidak melewati St. Djuanda. Mendengar hal itu dengan sigap saya keluar dari kereta tersebut lalu pindah ke seberang, ke jalur 2, yaitu kereta ke arah Bogor.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Fokus.
2. Jangan mengikuti orang lain yang tidak jelas.
3. Lain kali saya harus perhatikan sekitar.

3. GURU KEHIDUPAN : saya berhenti di St. Manggarai, lalu berjalan menuju jalur 3, kereta dengan tujuan akhir St. Jakarta kota. Saat saya di kereta, tanpa sengaja saya menemuakan seorang guru kehidupan. seorang ibu-ibu etnis china sedang berjualan keripik. Ibu-ibu itu berjualan dengan ramah dan bersahabat.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. " Senyum adalah modal kesuksesan."
2. " Senyum adalah sedekah yang paling mudah."
3. Orang non muslim saja ramah, bagaimana dengan orang muslim yang justru sudah diperintahkan oleh Allah S.W.T untuk ramah dan bersahabat dengan sesamanya?

4. Sampai di St, Djuanda, saya menghampiri seorang petugas perempuan , raut wajahnya begitu tegas. Saya menyampaikan kepada petugas itu tentang pemesanan tiket saya yang salah tujuan. Alhamdulillah, saya tidak didenda. Kartu yang saya beli di St. Poris pun di tahan dan saya keluar dengan kartu yang digenggam oleh petugas perempuan itu. Lalu saya pun melanjutkan perjalanan ke arah masjid Istiqlal. Di jalan, saya belajar untuk berusaha tidak bertanya. Alhamdulillah, saya sampai di tujuan, masjid Istiqlal.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Petugas perempuan, sang guru kehidupan : tegas, tapi ramah.
2. Jangan takut untuk berkata jujur.
3. Manfaat : otak saya jadi bisa berjalan 𓀡 :')

5. Di masjid Istiqlal, saya berjalan keliling tanpa arah karena sangat luas. Saya beruntung tidak tersesat ke madrasah masjid Istiqlal.
Saat saya ingin masuk ke penitipan sandal, saya merasa heran, mengapa tempat ini seperti kantor? saya pun mengikuti orang-orang yang terlihat sedang mengambil sandal. Lalu saya mengulurkan tangan dan memberikan sandal yang ada di genggaman saya kepada penitipan sandal yang ada tepat di depanku. Ternyata salah. Tempat itu adalah tempat penitipan sandal untuk laki-laki. Saya pun beralih tempat ke penitipan sandal yang lainnya dan menanyakan dimana tempat wudhu dan shalat. Saat petugasnya memberitahu, belum juga mengerti saya (istilahnya) "iya-iyain" saja. seolah sudah mengerti . Alhasil, saya pun berjalan ke mana saja tanpa tujuan.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Saat orang memberitahu, sebaiknya dengarkan terlebih dahulu. Jangan 'sok' tahu. Beda halnya dengan kita saat jalan sendiri, 'sok tahu' agar kita tidak dikira 'linglung', agar penjahat tidak mudah menipu kita.
2. Jangan takut salah.

6. Saat saya ingin shalat dzuhur di masjid Istiqlal, saya dipanggil berkali-kali oleh seseorang. Karena saya pikir orang lain, akhirnyanya saya tetap berjalan masuk. Saya pun dicegat oleh petugas agar menitipkan barang yang saya bawa, karena peraturannya tidak boleh membawa barang bawaan ke dalam masjid.
Ketika saya ingin memberikan tas saya, saya baru ingat, bahwa saya membawa mukena. Saya pun mengambilnya terlebih dahulu dengan waktu yang cukup lama. Saya pun diomeli oleh petugas ,"CEPET." Dalam hati saya berkata,"Ampun sih bang, sabar bang sama orang kayak saya mah. Saya mah apa atuh :v ."
PELAJARAN YANG SAMA AMBIL :
1. Peka dengan sekitar.
2. Semuanya perlu persiapan. Jangan sampai apa yang kita lakukan merugikan orang lain.

7. Ketika shalat dzuhur berlangsung, suasananya begitu tegas ketika seorang "pengatur" shaff shalat perempuan muncul. Siapa pun yang salah harus tegas, membenarkan agar benar, siapapun itu. Walau tegas, petugas ini tetaplah sopan. T-O-P.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Harus tegas jika ada yang salah. Siapapun itu. Tapi, tetaplah menjadi sopan.
2. Jangan takut jika benar.
3. Ikuti dan hargai peraturan yang ada.

8. Sebelum saya pulang, saya pergi ke tempat penitipan sandal. Saya lupa, dimana saya menyimpan sandal. Setelah dicari ternyata, kartunya terselip disela-sela tas.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Taruh dan jaga barang dengan baik. Terutama barang milik orang lain.

9. Saya pun pulang menaiki commuter line lagi. Tujuannya ke St. Rawa Buntu, stasiun yang saya tahu paling dekat dengan rumah saya. Ketika saya sampai di St. Tanah Abang, rencananya saya transit dan melanjutkan perjalanan dengan kereta yang arahnya menuju St. Serpong. Tapi, saya salah jalur, sehingga kereta pada jalur tersebut membawa saya kembali lagi ke St. Manggarai. -_-...
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Jangan membenarkan sesuatu sebelum dicek.
2. Jangan malas bertanya.

10. Saya pun kembali menaiki kereta ke arah St. Tanah Abang dari St. Manggarai. Lalu transit di jalur 6 ke arah serpong, berhenti di St. Rawa Buntu. kali ini Alhamdulillah saya tidak salah :').
Untuk pulang, saya sudah bilang ke supir angkotnya ," 5.000 yang bang." . Abangnya meng-iyakan. Mengapa saya menawar dulu? karena biasanya dari St. Rawa Buntu menuju Gading (nanti saya transit angkot dari situ) membutuhkan biaya sekitar Rp. 7.000. Sedangkan di kantung saya hanya ada uang Rp.5.000. (yang uang kecilnya).
Saat turun, saya membayar sesuai kesepakatan. Rp. 5.000,-. Tapi, supir angkotnya menagih saya ," Kurang 2.000,- neng,'' lalu saya menjawab ," kalo uang 50 ada kembaliannya nggak bang?". Abangnya pun langsung pergi.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Saya pikir, saya dan abang angkotnya salah. Saya: semestinya saya menghargai ongkos yang sudah di terapkan. Abang angkot: sudah sepakat , kok? :o

11. Saya pun sampai di rumah. Hari ini, seru sekali. Saya mendapatkan banyak pengalaman yang luar biasa bagi saya. Yang mungkin belum pernah saya dapatkan selama seumur hidup saya :"")`

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Rabu, 21 Desember 2016.

1. Pagi ini, saya berencana untuk pergi ke RSJ bersama kak Nurma, dengan harapan menemukan banyak guru kehidupan di sana. Tapi, karena belum mendapat info tentang RSJ yang ada di Tangerang , saya pun berkunjung ke Nutrition Club umi terlebih dahulu, sambil menunggu kepastian dari kak Nurma . Setelah sekian lama mengobrol lewat whats up, kak Nurma tidak jadi berjunjung ke RSJ bersama saya. Karena ada raker yang harus kak Nurma hadiri. Saya bingung. Di mana ya saya bisa bertemu ' guru kehidupan' ? apalagi, saya kan adalah orang yang paling susah untuk berkenalan dengan orang baru. Akhirnya, karena sibuk berpikir, waktu saya pun terbuang.
PELAJARAN YANG SAYA AMBIL :
1. Terkadang, malu itu harus hilang dari kita. Malu untuk menuntut ilmu, itulah yang semestinya hilang.

= GURU HIDUP SAYA HARI INI=

1. UMI.
= Hari ini, umi mengajarkan saya, untuk tidak menyesali sesuatu terlalu dalam. Umi bercerita tentang saudaranya yang masuk RSJ.
Selain itu, umi juga mengajarkan saya ," Jangan sampai pusingmu itu , alasanmu itu menghambat kesuksesanmu nanti." Dengan galaknya umi berkata seperti itu pada saya
Umi, paling tidak suka sesuatu yang berbentuk tidak jelas, tidak ada manfaatnya juga sesuatu yang tidak bersugguh-sungguh.

2. BU TINI, konsumen umi.
= Bu tini, adalah penjual sayur di pagi hari. Ia telah menjalankan profesi ini selama 20 tahun. Ia mulai bekerja pada jam 12 malam. mengambil sayur dari semacam losbak di pasar lampung. Lalu, berangkat menuju tempat berjualan. Sampai di sana sekitar jam 3 pagi. Bu Tini mulai berjualan sekitar jam 3 pagi. jika dagangannya tidak habis, bu tini biasanya menjual sayur di jalanan dari jam 5-6 pagi. ika belum habis juga, ibu Tini keliling memakai gerobak, menual sayur sampai jam 9 pagi. (jika tidak salah). Omset perhari bu Tini dapat mencapai Rp. 2.500.000,-. Ya, sesuatu yang hebat itu memang butuh perjuangan, menanggung malu. Bahkan sampai sakit-sakitan.

Siapapun bisa menjadi guru kehidupan, asalkan kita peka dan melihat dari sisi positifnya.- UMI
.
#yukmasukSurauMerantau😉
#cetarrrmembahanaaa 😁

Sumber Laporan Syifa
0 Komentar untuk "Berpetualang Mencari Guru Kehidupan"

Back To Top