Pendidikan Normal vs Pendidikan Revolusioner
(Dari Surau ke Surau dari Rantau ke Rantau Ilmu Diserap)Mengambil perspektif Thomas Kuhn tentang “Structure of Science Revolution” dapat dijelaskan secara sederhana, bahwa paradigma ilmu pengetahuan tertentu yang sudah disepakati oleh sekelompok ilmuan muncul dan bertahan karena memiliki keunggulan dalam menyelesaikan problem ilmiah yang merupakan fondasi dari normal science.
Normal science sendiri terdiri dari satu paradigma utuh, dan jika terdapat banyak paradigma maka tidak lagi menjadi normal science. Sehingga munculah anomali, yakni munculnya problem-problem ilmiah tidak terjawab oleh suatu paradigma.
Berangkat dari teori ini Kuhn beranggapan, bahwa science hanya sebuah social process. Jadi kebenaran science menurutnya adalah relatif dan sangat tergantung dengan fakta-fakta sosial yang terwakili oleh salah satunya masyarakat dan ilmuan itu sendiri.
Nah menarik dari paradigma Kuhn tersebut, jika ditarik kedalam paradigma pendidikan, saat ini kita terlena seolah pendidikan yang sudah mapan (eg: persekolahan) menjadi pakem yang harus dijalankan oleh setiap "individu" anak, padahal setiap anak adalah unik, dan adakalanya harus bernaung di "rumah" yang berbeda.
Mengalami langsung SM ala Sekolah Alam Tangerang dalam bingkai konstruk Surau Merantau membuat kami yakin, anomali-anomali pendidikan normal bisa dijawab oleh pendidikan revolusioner ala SURAU MERANTAU. Dan SM hanya sebuah social process di pelangi pendidikan yang siap mewarnainya.
#Terimakasih pimpinan SAT (Pak Andri Fajria & Bunda Tik Santikasari Dewi) melalui Pak Adriano Rusfi kami mendapatkan paradigma "Surau Merantau" yang revolusioner dan terimakasih banyak Pak Desvian Bandarsyah guru sekaligus mentor saya atas konstruk Teori-teori Sosialnya di kelas-kelas hebatnya.
Mojokuto, 23-08-2016
AAN, Mentor Surau Merantau
Desvian Bandarsyah: Andri... bagus sekali tulisannya. Namun beberapa konsepnya perlu diluruskan. Bahwa dalam satu masa dapat berlaku beberapa paradigma dengan perangkat keilmuan yg dimilikinya. Banyaknya paradigma tdk menjadikan ilmu mengalami anomali. Anomali terjadi ketika ilmu dalam paradigma tertentu tidak mampu atau gagal menjawab gejala gejala sosial atau alam yang dihadapinya. Maka ilmu mengalami anomali, jika anomali berkepanjangan maka ilmu akan mengalami krisis dan jika krisis berlanjut ilmu dapat mengalami revolusi. Jadi anomali terjadi dalam satu paradigma dan tidak berhubungan dengan paradigma yang lain, meskipun paradigma baru atau yang lain dapat muncul karena paradigma tertentu gagal memberikan penjelasan pada problema kehidupan atau bisa juga ada kalangan ilmuan tertentu yang tidak puas dengan paradigma yang berlaku. Sebagaimana yang terjadi pada pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif pada masa awal kemunculannya. Dalam bidang yang lainnya, Bisa juga misalnya kapitalisme dan sosialisme
24 Agustus pukul 4:34
Andri You: Wahseneng sekali..., menyempurnakan pemahaman saya tentang paradigma ini, terimaksih Bang Desvian Bandarsyah.
Desvian Bandarsyah: Sukses andri
Kartika Putri Rahendra: wahh... bersyukur bgt tuh bi... langsung ada yg meluruskan
https://www.facebook.com/andri.yulianto.3150/posts/1252096854814933
Tag :
Merantau,
Revolusioner

0 Komentar untuk "Pendidikan Normal vs Pendidikan Revolusioner"