Merekam Jejak Rangmuda/i Surau Merantau Sekolah Alam Tangerang

Belajar Dari Karakter Tahanmalang

Jejak surau merantau belajar-dari-karakter-tahanmalang


Belajar Dari Karakter Tahanmalang


Pembelajaran hari ini, semoga semakin memantapkan. Sudah memasuki awal bulan kedua sejak kepergian kami meninggalkan sekolah tercinta, Sekolah Alam Tangerang. Tidak sedikit peristiwa-peristiwa unik yang menyertai proses pembelajaran di Surau Merantau.

Seperti persinggahan kami hari ini di Surau Ainul Hamid Tulung Rejo Kediri yang baru kami kunjungi untuk dijadikan class corner dan tempat diskusi mengambil serpihan hikmah yang berserak. Siang itu kami sepakati bertemu bersama mereka dan melanjutkan laporan observasi ke Gunung Kelud sehari sebelumnya.

Masing-masing rangmuda/i menulisikan pengalaman apa saja yang mereka dapatkan. Dituliskan dalam satu lembar dengan waktu yang sudah ditentukan. Pelajaran menulis, social analisys, problem solving, risk management dan konsep diri terpadu dalam satu kegiatan pembejaran hari itu. Setiap rangmuda/i satu sama lain berbeda challenges yang diberikan.

Melalui pembelajaran yang khas dengan proses TBEL (Tasking-Behaving-Experiencing-Learning) maka kami memberikan penugasan kepada masing-masing mereka. Proses menjalankan misi berjalan dengan baik, walaupun masih ada yang camper, hanya mencukupkan diri dengan hasil buruannya.
Nah dari proses ini kami para mentor juga akan dengan mudah mengetahui siapa saja yang masih mencari aman untuk tidak berusaha lebih keras dengan hasil maksimal. Saya menyebutnya tipe climber, meminjam istilah G. Stoltz dalam bukunya AQ.

Tentang pengalaman bangkit, sebut saja misalkan Rangmuda Fathur salah satu diantara mereka harus berkali-kali bangun dan jatuh hanya untuk mendapatkan beberapa helai hasil tani penduduk sekitar. Yang khas di pembelajarn surau, konten yang sama dengan materi dan target kompetensi yang berbeda dari masing-masing mereka.

Tanpa diduga sebelumnya, Rangmuda Fathur mengalami perisitiwa yang bagi orang lain mungkin sebuah peristiwa yang menyakitkan. Pasalnya ia harus dua kali dalam waktu yang tidak terlalu lama jatuh dari sepeda “kurang waspada”. Pertama kali ketika misinya hampir berhasil dengan membawa hasil pertanian (pare,cabe, jagung dan tomat) yang ia coba loby ke beberapa petani untuk diberikan secara Cuma-Cuma dengan meminta secara santun, hanya untuk sampel pembelajaran.

Misi pun tidak tuntas karena beberapa jenis hasil tani harus hanyut ke kali (sungai kecil) pinggir tegalan, tidak bisa diselamatkan. Karena sebelumnya mendadak ketika sampai pada jembatan kecil beriringan banyak sepeda anak-anak SMA dan beruntun menabrak sepeda yang ia tumpangi, tidak terluka hanya sepeda terjatuh dan beberapa jenis palawija yang ia dapatkan dari para petani hanyut kesungai tidak bisa ditangkap.Bergegas ka surau karena waktu sudah mendekati ashar, karena diwajibkan kembali sebelum ashar tiba.

Perjalanan menjalankan misi selesai. Masing-masing rangmuda/i menjelaskan proses dan pengalaman yang mereka dapatkan siang itu. Dipandu mentor mereka fokus pada tantangannya masing-masing. Semua sudah menjelaskan dan mengambilpelajarannya, ketika sedang menunggu Rangmuda Fathur kami menyaksikan dua pengendara dari arah yang sama berhenti mendadak karena fathur belok tanpa melihat didepannya, bersyukur dengan sigap kedua motor tersebut masih dapat dikendalikan.

Jejak surau merantau belajar-dari-karakter-tahanmalang

Dari cerita tasking dan behaving yang dilakukan fathur dapat dismpulkan selanjutnya adalah experiencing yang ia dapatkan. Pertama adalah tidak mudah menyerah. Kedua, merasakan sakit hati, tidak senang ketika meminta penolakan jawabnya. Ketiga, harus bersabar ketika hasil yang dicapai kemudian tidak bisa dibawa.

1) Tidak mudah menyerah

Tujuan proses pembelajaran kali ini sudah masuk pada tahap pembekalan. Pembekalan sendiri dalam konstruk pembelajaran surau meliputi konsep survival, beladiri dan wirausaha.
Dalam situasi genting tertentu kita dapat saksikan insting yang paling dominan untuk kemudian seseorang bisa menyelamatkan diridan menghindar. Perjalanan fathur yang sampai ke Tegowangi sekitar 5 km dari surau kemudian harus berhadapan sekolompok anak-anak SMA yang bersepeda yang nabrak dirinya adalah peristiwa yang tidak bisa dilupakan.
Selang beberapa lama ketika hampir sampai di surau dirinya hampir terulang tertabrak, oleh sepeda motor yang lebih besar bahayanya.
Dari sini dapat kita simpulkan, pembelajaran risk management dan kepekaan terhadap lingkungan menjadi modal dasar kehidupan. Dirinya sudah mencoba untuk mendapatkan dan menyelesaikan apa yang menjadi misinya, namun butuh kewaspadaan untuk tidak ceroboh ketika berjalan di jalanan yang belum familiar bagi dirinya.

2) Perasaan ketika ditolak

Dalam hidup sebuah keniscyaan apa yang kita inginkan tidak semua bisa didapatkan begitu saja. Butuh pengorbanan walaupun hanya sedikit dari setiap kita, materi, tenaga, pemikiran adalah anugerah tak ternilai yang allah titiskan pada setiap manusia sebagai modalitas hidupnya. Memberi merupakan investasi, dan sifat pelit adalah penyakit yang harus diamputasi.
Sebenarnya kalau kita sedikit mau mengeluarkan modal mungkin dengan sangat mudah para petani akan memberikan hasil tanuinya, dengan trik dan teknik misalkan berniat membayar mungkin para petani akan menjadi lebih iba ketika hanya satu dua helai hasil bumi mereka berikan.

3) Bersabar ketika perolehannya hilang

Sifat dasar manusia adalah dualisme yang harus bisa didamaiseimbangkan dengan percaya adanya balasan, antara sedih dan gembira, untuk dan rugi, sesal dan optimis semua berpasangan, dan menakjubkannya semua bisa datang dan pergi didalam satu kondisi psikis manusia. seperti saat ini yang dirasakan oleh Fathur.

Dari ketiga hal yang diungkapkan oleh Rangmuda Fathur, kami dapat menyimpulkan sebuah pembelajaran yang berharga bahwa tidak mudah menyerah dalam hidup adalah modal utama untuk terus melangkah maju dalam mencapai tujuan tertentu dalam hidup kita. Tujuan hidup pun tidak selalu dipenuhi oleh tujuan dan mabisi pribadi tetapi justru untuk kemaslahatan orang banyak.

Selanjutnya tujuan juga akan tercapai jika pantang menyerah tersebut diberi perisai dengan kesabaran ketika mendapatkan atau ketika kehilangan apa yang sudah menjadi milik kita. Berdamai pada diri sendiri bahwa tidak ada yang mutlak dalam kehidupan ini adalah miliki diri kita adalah keyakinan baru dalam diri sahabat muda saya Fathur sehingga hidup tidak melulu individual namun harus mampu berkolaborasi dan berbagi dengan orang lain.

Yang tidak kalah menarik adalah perasaan yang tidak menyenangkan ketika keinginan kita ditolak oleh orang lain. Fathur menyadari bahwa barang-barang pribadinya yang bisa dibagi kepada orang lain sebenarnya adalah tidak akan mengurani nilai barang tersebut. Justru menjadi investasi bagi dirinya karena suatu saat tidak ada jaminan bahwa selamanya memiliki, tiba giliran orang lain yang memiliki sehingga ketika ia membutuhkan bisa meminta bantuan kembali tanpa disakiti atau ditolak.

Dan sebaliknya perasaan senang yang tidak terkira ketika ia memperoleh sesuatu ketika ia meminta dan dikabulkan permintaanya tersebut.Terimakasih sahabat mudaku, sejatinya engkau yang telah mengajarkan kami tentang banyak makna "ketahanmalangan" (AQ).

Selamat mengambil hikmah, bahwa berbagi adalah investasi untuk menuju kehidupan yang lebih sukses!.

Surau Ainul Hamid, Tulungrejo Pare Kediri
08-09-2016

Aan - Mentor Surau Merantau

#StudentCoaching

https://www.facebook.com/andri.yulianto.3150/posts/1267610263263592

0 Komentar untuk "Belajar Dari Karakter Tahanmalang"

Back To Top