[20:53, 8/19/2016] Aan Andri Yulianto: Pekan Ke-3 Merantau
(Kemandirian vs AQ)
Memasuki pekan ketiga ini semakin terlihat kemandirian atau independence para rangmuda/i dalam belajar di Pare.
Terlihat di dalam kelas pagi vocabulary (hari ini, Jum'at, 19/08/16) setiap rangmuda/i diberi tugas untuk translit vocabulary dan mencari meaning yang tepat dalam kamus John M. Echolle.
"Silahkan buka kamusnya nanti teman-teman akan mendapatkan banyak arti disana," demikian Miss Indah sang Tutor of iBEST menyampaikan dan menegaskan kembali untuk terus mencoba mencari arti di kamus. Beberapa sudah ada yang tenang dengan kamusnya masing-masing.
Sementara, hampir separohnya masih merasa belum terbiasa, sehingga mudah mengaduh "miss ini gak ada," ada juga yang langsung pasrah "susah, pusing carinya," bahkan kemudian masih ada yang instan maunya dari hasil pencarian temannya saja.
Menarik mencermati perilaku ini, kalau dalam pemahaman G. Stoltz tentang AQ (kecerdasan tahanmalang) maka dapat diklasifikasikan bahwa setiap individu terbagi menjadi tiga kelompok besar. G. Stoltz menggambarkan AQ seseorang itu ibarat orang yang mendaki gunung, ada yang gak berani keluar untuk naik (quetter), ada yang sudah merasa nyaman singgah ngecamp di suatu dataran (camper) dan ada yang terus dan terus mendaki untuk sampai ke puncak tujuannya (climber).
Pertama, quetter yaitu pribadi mudah menyerah ketika ditantang sebuah situasi dan keadaan. Kedua, camper, yakni mereka yang sudah merasa cukup dan nyaman dengan kondisi atau hasil sekarang. Dan ketiga, adalah climbers, yaitu mereka yang terus maju dan berani mengambil resiko, apapun tantangan dihadapannya. Pribadi terakhir ini tidak mudah menyerah, mampu mengubah tantangan sebagai sebuah peluang. Dan karakter mereka adalah tidak mudah memyerah.
Memasuki pekan ketiga ini, sudah sangat nampak keunikan-keunikan yang mereka hadirkan. Ketiga potensi utama (tinking, feeling dan behavior) yang mereka miliki semakin terungkap. Ketiga hal utama ini yang sangat berkontribusi dengan kebebasan berfikir, bertindak dan dalam mengambil keputusan.
Nah, kalau dilihat dari teori AQ yang dikembangkan G. Stoltz ini maka akan terlihat tipikal AQ mereka masing-masing saat ini. Secara umum rangmuda/i membuktikan orang-orang yang tidak mudah menyerah, climbers. Lihat saja misalkan, saya mendapatkan hal yang special di pagi ini, setelah shubuh salah rangmuda mengeluh, "Kak Aan saya pusing," sambil di antar salah satu sahabatnya disaung "surau" biasa mengaji setelah shubuh mereka berdua menemui saya yang lebih awal menunggu. "Silahkan istirahat dulu kalau kamu pusing," jawab saya. Panas juga kak, temannya yang cukup care menjawab. Akhirnya saya minta rangmuda yang satu ini untuk ke camp yang jaraknya hanya beberapa langkah dan mempersilakan istirahat saja.
Usai acara tilawah pagi, saya kembali menemui rangmuda tadi. Sementara rangmuda yang meminta saya menemani ikut pengajian syaikh habib selasa lusa sebenarnya lebih dulu mengeluh pusing sehari sebelumnya namun pagi ini sudah mandi dan kelihatan segar. Dan langsung saya minta untuk bersedia dibekam kering dan dia mau. Setelah dia rupanya rangmuda yang mengeluh pusing pagi tadi masih terbaring dan saya minta untuk minum herbal antangin. Selanjutnya hal yang sama saya minta untuk bersedia di bekam kering. Dan dia menuruti.
Pukul 05:30 jam kursus dimulai, saya tanyakan ke rangmuda tadi apakah mau istirahat dulu? "Saya belajar aja kak," katanya sambil bangun berdiri dan mengambil peralatan belajar. Saya tertegun mendapatkan special moment ini dan teringat konsep G. Stoltz tadi terkait lecerdasan mengubah situasi/tantangan menjadi sebuah peluang. Dan ternyata ada pada rangmuda yang satu ini, walaupun baru saja dan mungkin.masih pusing ia tetap bergegas masuk kelas.
Inilah bukti bahwa pribadi unik akan menemukan dirinya dalam sebuah fase dimana dia akan semakin tertantang dengan kondisi yang menurut orang lain menjadi hambatan, justru ia mengubah dalam mindset berfikirnya bahwa saya harus tetap melakukan sesuatu agar target tetap tercapai. Pribadi-pribadi climber dihadirkan ke kami, terimakasih ya Rabb.
(bersambung)
[21:01, 8/19/2016] Aan Andri Yulianto: Selanjutnya...Sebelumnya, kami tahu persis rangmuda yang satu ini. Sebelum berangkat dia adalah rangmuda yang sangat ragu untuk berangkat. Bayangkan siapa yang tidak senang setelah disini (Pare) melihat dia berusaha melejitkan potensinya dari posisi sebelumnya yang terakhir sampai kemudian meningkat signifikan dalam presence dan active di kursus. Dan hari ini meningkat ke posisi ke-empat.
AQ, kecerdasan tahanmalang berperan membantu seorang dalam memilih keputusan berat menjadi sesuatu yang dinikmati, bahkan bagi mereka kemudian seolah tanpa beban. Disini kami menyimpulkan bahwa pekan ketiga adalah masa transisi menuju disiplin dan komitmen diri sebelum pada kreatifitas untuk mencari peluang berwirausaha. Tentu masih banyak hal yang sedang dan akan menjadi tantangan kami, mentor dan rangmuda/i. Semoga misi surau merantau ini tetap berproses bukan kemudian tanpa hambatan, tapi justru kami yakin melalui hambatan-hambatan yang mereka dan kami hadapi akan semakin mengasah kepekaan diri (sensing) dan kemandirian (independence). Sebuah target kompetensi yang tertuang dalam konstruksi pendidikan berbasis kearifan lokal, local wisdom surau dan rantau.
Masih banyak hal seru yang menjadi special moment di antara kami, tunggu giliran rangmuda berikutnya. Semoga kami bisa lebih banyak menemukan makna.
Terimakasih doa-doanya Ayah dan Bunda. I Love you all so much!
19/08/2016
Catatan Akhir Pekan,
Mentor Surau Merantau
Sekolah Alam Tangerang.
(Semoga catatan kecil ini juga sebagai komunikasi kami dan Ayah dan Bunda)
0 Komentar untuk "Merantau; Kemandirian vs AQ"